October 22nd, 2007 by emhafaiq

Kompas, 22 Oktober 2007

1

Dua pekerja mulai membongkar salah satu bagian lantai lima  Vue Palace Hotel, Bandung, Sabtu (20/10). Wali Kota Bandung dada Rosada memberi batas waktu hingga 20 Januari untuk membonngkar lanti lima dan enam Vue Palace Hotel.

Tata Kota

Pembongkaran Vue Palace Hotel Dihentikan 

Bandung, Kompas - Pembongkaran lantai lima dan enam Vue Palace Hotel yang baru berjalan sehari dihentikan pada Minggu (21/10). Alasannya, para pekerja butuh libur untuk istirahat. Lagi pula masih dalam suasana Lebaran.

"Besok (Senin), semua proses pembongkaran berjalan lagi sesuai rencana," kata Engineer Vue Palace Hotel Jeffrry Ridwan di Bandung, Minggu. Hingga kemarin, pembongkaran dua latai di Vue Palace Hotel baru pada tahap pencopotan jendela dan pembobolan beberapa bagian dinding kamar. Perabotan kamar sudah dipindahkan ke bawah.

Manajemen Vue Palace Hotel mulai membongkar lantai lima dan enam hotel di Jalan Otto Iskandardinata Nomor 3, Kota Bandung, ini sejak Sabtu. Ini sesuai kesepakatan Pemerintah Kota Bandung dan manajemen Vue Palace Hotel saat masih bernama Hotel Planet. Pembongkaran ini berpijak pada Surat Keputusan (SK) Wali Kota Bandung tahun 2006.

SK itu mencantumkan waktu pembongkaran dimulai 20 Oktober 2007 dan berakhir 20 Januari 2008. Pembongkaran dilakukan karena lantai lima dan enam menyalahi izin Wali Kota Bandung. Tak bisa tiga bulan Direktur Utama Vue Palace Hotel Aryadi menjelaskan, sulit untuk menyelesaikan pembongkaran dalam tempo tiga bulan sebagaimana diminta Pemkot Bandung.

Pembongkaran itu, menurut dia, telah dilakukan sejak Januari 2006, terutama kanopi, daun pintu, dan jendela. Wali Kota Bandung Dada Rosada mengatakan, pemkot tetap konsisten untuk menciptakan tata ruang atau lingkungan yang tertib.

Izin operasional hotel akan dicabut jika manajemen Vue Palace Hotel tidak memulai pembongkaran pada 20 Oktober 2007 atau tak menyelesaikan pembongkaran pada 20 Januari 2008. Izin yang terancam dicabut antara lain izin peruntukan penggunaan tanah, IMB, izin HO, dan surat izin usaha kepariwisataan. (MHF)

October 6th, 2007 by emhafaiq

Hidup_dari_yang_mati

Asep Rohendi (46) membersihkan sebuah makam dengan membabat rumput yang tumbuh di atasnya di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, Rabu (3/10). Para penggali dan penjaga makam bekerja keras untuk  mendapatkan limpahan rezeki saat Lebaran nanti.

Jelang Lebaran

Kehidupan Mereka Bergantung pada yang Mati 

Udara di Kota Bandung amat panas pada Rabu (3/10). Namun, semua itu tidak menyurutkan niat Yusuf (53) untuk membersihkan puluhan makam di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, Bandung.

Sejak matahari masih sepenggal, sampai persis di atas ubun-ubun, Yusuf membersihkan rumput liar yang mengepung makam.

Hari itu, ia sudah membersihkan tidak kurang dari 20 makam. "Maunya bisa 25 makam sampai sore nanti, biar besok-besok tidak banyak beban," ujarnya.

Yusuf adalah satu dari puluhan penjaga makam, sekaligus penggali kubur di TPU Sirnaraga. Bapak tujuh anak ini menggantungkan hidup dari menjaga makam dan menggali kubur.

Meskipun tidak selamanya pekerjaan itu menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup, Yusuf enggan mencari pekerjaan lain. Baginya, menggali kubur dan menjaga makam bukan sekadar mencari uang, tetapi juga mendapatkan pahala.

Sudah puluhan tahun Yusuf menekuni pekerjaan ini. Ia dipercaya menjaga sekitar 100 makam. Para ahli waris jenazah yang dimakamkan di situ percaya pada ketelatenan, kesetiaan, dan kerapian Yusuf menjaga makam.

Para ahli waris memang jarang datang, paling sebulan sekali. "Kalau ada yang datang, suka ngasih duit. Kadang Rp 50.000 kadang Rp 10.000," kata Yusuf.

Namun, menjelang Lebaran Yusuf meyakini akan ada puluhan bahkan ratusan ahli waris yang akan mengunjungi makam anggota keluarga. Untuk itulah, Yusuf bekerja keras membersihkan setiap makam yang menjadi tanggung jawabnya.

Menjelang dan saat Lebaran tahun lalu, Yusuf mengantongi Rp 1 juta. Uang itu didapat dari pemberian para peziarah. "Kalau sudah terima uang, rasanya semua capek jadi hilang. Makanya, kalau sedang membersihkan makam gini, enaknya mbayangin duit, biar enggak capek," ujarnya.

Tergantung keluarga

Hal senada dikatakan Yuyu (30), rekan Yusuf. Lebaran merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu para penggali kubur dan penjaga makam.

Yuyu menjelaskan, penghasilannya menggali kubur tidak dapat dipastikan, tergantung kondisi ekonomi keluarga jenazah yang dimakamkan. Kalau kebetulan anggota keluarganya kaya dan dermawan, Yuyu dan rekan-rekannya bisa mendapat ratusan ribu rupiah.

"Pernah ada satu keluarga yang memberi upah sampai 1,5 juta. Katanya kasihan melihat tukang gali yang bercucuran keeringat. Kami tidak bisa melarang. Yang penting tidak ada paksaan," tutur Kepala Subdinas Pemakamam Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung Agus Bustomi Susanto.

Kadang para penggali kubur yang terdiri dari lima sampai delapan orang itu hanya mendapat Rp 50.000.

Menjadi penggali kubur, kata Yogi (29), tidak bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan tetap. Kadang mereka menganggur selama berbulan-bulan. "Baru ada pekerjaan sehari atau dua hari kalau ada yang meninggal. Setelah itu, nganggur lagi," kata Yogi yang tengah menata sebuah makam.

Begitulah para penggali dan penjaga kubur. Kehidupannya seolah bergantung pada yang mati. (Mohammad Hilmi Faiq) 

October 6th, 2007 by emhafaiq

Fs_7 Distamkam Siapkan 202 Liang

Jangan Ada yang Ditolak karena Masalah Biaya

Bandung, Kompas - Untuk mengantisipasi keadaan, Dinas Pertamanan dan Pemakaman atau Distamkam Kota Bandung menyediakan 202 liang kubur menjelang Lebaran kali ini. Penggalian liang kubur ditargetkan selesai tiga hari sebelum Lebaran. Saat ini sudah tergali 50 persen.

Demikian dikatakan Kepala Subdinas Pemakaman Distamkam Kota Bandung Agus Bustomi Susanto saat meninjau penggalian liang kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Rabu (3/10). "Jumlah liang kubur yang kami sediakan bisa kurang, bisa juga lebih. Biasanya selalu kurang," ujarnya.

Bustomi menjelaskan, penggalian liang kubur telah dimulai sejak hari kesepuluh bulan Ramadhan. Liang kubur tersebut tersebar di 13 TPU di Kota Bandung. TPU yang paling banyak menyiapkan liang kubur adalah TPU Sirnaraga, yakni 40 liang. Tahun lalu, kata Bustomi, pihaknya menyediakan 200 liang kubur.

Namun, realisasinya mencapai 258 liang terhitung sampai tiga hari setelah Lebaran. Tahun 2005 disediakan 150 liang kubur, sementara jumlah yang dimakamkan 154 jenazah. Tahun 2004 disediakan 130 liang, seangkan yang meninggal 140 orang. Menurut Bustomi, selama Lebaran, jumlah masyarakat yang dilayani meningkat.

Selain warga yang meninggal, petugas TPU juga melayani peziarah. Agar jenazah tidak terbengkalai, Distamkam menyediakan liang kubur sebelum ada warga yang meninggal. "Kami sudah siapkan tenaga untuk mengantisipasi jika liangnya kurang," ujarnya.

Untuk menggali satu liang kubur, kata Kepala TPU Sirnaraga Mustofa, dibutuhkan waktu satu sampai dua jam, bergantung pada jenis tanah dan jumlah orang yang menggali. Satu kelompok penggali terdiri dari lima sampai delapan orang. "Di TPU Sirnaraga ada 24 tukang gali," tuturnya. Cukup Rp 25.000 Mustofa menjelaskan, warga yang membutuhkan lahan liang kubur cukup membayar Rp 25.000 per meter persegi. Sementara untuk biaya penggalian tidak ada tarif tertentu. "Seikhlasnya saja, bahkan kadang kami gratiskan kalau memang keluarga yang ditinggal tidak memiliki biaya. Kami tidak ingin ada jenazah yang ditolak hanya karena tidak ada biaya," katanya.

Menurut Bustomi, Pemerintah Kota (Pemkot) Ba ndung masih memiliki lahan untuk liang kubur seluas 28 hektar. Lahan tersebut belum termasuk lahan dari perumahan seluas 17 hektar dan lahan yang akan dibeli melalui APBD seluas 4,8 hektar. Satu hektar lahan cukup untuk 2.500-3.000 makam.

Bustomi mengatakan, angka kematian di Kota Bandung mencapai 6.250 jiwa per tahun atau sekitar 19 jiwa per hari. Saat ini Subdinas Pemakaman Pemkot Bandung mengelola 13 TPU, yang luas keseluruhannya mencapai 140,5 hektar.

Sementara jumlah makam di Kota Bandung 168.341 buah, terdiri dari 126,746 makam aktif dan 41.595 makam pasif atau tidak lagi diurus oleh ahli warisnya.

Tahun 2004, dari TPU diperoleh pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 745,6 juta, sedangkan tahun 2005 menjadi Rp 756,8 juta. PAD dari makam tahun 2006 mencapai Rp 862,2 juta dari target Rp 818,6 juta. Tahun ini ditargetkan pendapatan sebesar Rp 889,45 juta, tetapi hingga awal Oktober baru terkumpul Rp 679,53 juta. (MHF)

Puasa

September 21st, 2007 by emhafaiq

Fs1_2 Para PNS menunggu waktu duhur pada jam kerja

KOMPAS Jawa Barat Hari: Jumat Tanggal: 14-09-2007 halaman: A Penulis: Faiq, Mohammad Hilmi

Kinerja Birokrasi

PUASA, TANTANGAN ETOS KERJA

Jam dinding di dalam Masjid Al-Ukhuwah Kota Bandung menunjukkan
pukul 11.30, Kamis (13/9). Suasana hening. Hanya ada beberapa jemaah
yang mendirikan shalat duha sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba.
Sebagian ada yang khusyuk membaca Al Quran di dekat salah satu tiang masjid.

    Tak jauh dari mereka duduk, dua orang berseragam pegawai negeri
sipil (PNS) tampak duduk sambil terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian
datang seorang lagi dengan pakaian serupa. Dia langsung merebahkan
diri di samping teman-temannya. Selang sekitar 10 menit, terdengar
dengkuran halus. Dia tidur.
    Di ujung ruang masjid tampak juga seorang PNS terlelap. Dia sama
sekali tidak sadar bahwa di sekelilingnya sudah mulai ramai orang yang
menunaikan shalat duha. "Dari jam 10.15 tadi dia sudah tidur di sana,
mungkin lemas karena puasa," kata seorang penjaga masjid.
    Setiap awal bulan puasa, pemandangan tersebut kerap terlihat. Para
PNS "mencuri" jam kerja untuk tidur dengan alasan sedang puasa. Mereka
seolah lupa bahwa ada masyarakat yang harus mereka layani.
    Muhammad Riyan dari Dewan Pimpinan Wilayah Hizbut Tahrir
Indonesia, kemarin, mengatakan, banyak orang belum dapat memahami amal
ibadah puasa secara menyeluruh. Mereka masih menilai kewajiban puasa
sebagai beban.

    Padahal, lanjutnya, dalam Al Quran disebutkan bahwa salah satu
tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa berarti
takut kepada Allah atau meninggalkan segala larangan-Nya dan
mengerjakan perintah-Nya. "Takwa itu berarti dekat dengan Allah.
Implementasinya, dia akan bekerja dengan sungguh-sungguh," ujarnya.
    Riyan menilai bahwa masi h banyak anggota masyarakat yang melihat
puasa di bulan Ramadhan sebagai sesuatu yang asing. Padahal, Allah
menganjurkan agar sebelum memasuki bulan Ramadhan, yakni bulan Rajab
dan Syakban, umat manusia berpuasa. Ini dapat diartikan sebagai masa
persiapan memasuki Ramadhan.
    "Kalau tak ada persiapan, maka terjadi loncatan. Ibaratnya orang
olahraga tanpa pemanasan akan shock atau cedera," kata Riyan.

Seharusnya meningkat
    Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Dadang Kahmad
sependapat dengan Riyan. Baginya, kinerja selama Ramadhan tidak akan
terkendala kalau para PNS sudah terbiasa dengan puasa sunah. "Karena
banyak yang kurang biasa berpuasa, saat masuk bulan Ramadhan itu
menjadi mengagetkan, jadi lesu dan lemas. Butuh adaptasi," ujarnya.
    Dadang berharap para PNS ini hanya butuh waktu sehari untuk
beradaptasi. Selanjutnya mereka tetap dapat melayani masyarakat secara
maksimal meskipun sambil berpuasa. Kalau selama berpuasa mereka tetap
lemas, ini kontraproduktif dengan tujuan puasa itu sendiri.
    Menurut Dadang, tujuan puasa antara lain adalah meningkatkan
keimanan, etos kerja, dan prestasi. Artinya, dengan berpuasa kinerja
seseorang semestinya meningkat.
    Segala bentuk ibadah, lanjutnya, telah dirancang Allah agar tidak
mengganggu aktivitas umat-Nya sehari-hari. Seperti puasa dan shalat,
di negara-negara yang berbudaya tinggi itu semua tidak mengganggu kinerja.
    "Warga Indonesia yang bekerja di negeri orang dengan kultur
kerjanya tinggi, mereka tidak ada masalah. Di Arab sendiri, shalat
cukup waktu 10 menit dan kemudian warga kembali bekerja secara
serius," kata Dadang.
    Ia menjelaskan, fenomena menurunnya kinerja PNS pada awal Ramadhan
adalah masalah budaya. Warga di negeri ini selalu punya alasan untuk
bisa bekerja dengan lalai dan malas. Jangankan saat bulan puasa, di
bulan-bulan yang lain juga banyak pegawai yang memiliki banyak waktu
luang daripada bekerja secara serius.
    Dengan adanya puasa, seolah ada kambing hitam yang layak
dipersalahkan atas menurunnya kinerja pegawai.
    Dadang mengatakan, kalau puasa dijadikan alasan atas menurunnya
kinerja pegawai dan mengganggu pelayanan publik, sudah saatnya ada
pencerahan yang lebih jauh akan pentingnya puasa. Perlu ditanamkan
kesadaran bahwa melayani kepentingan orang lain itu merupakan bagian
dari ibadah. Ini harus diberikan secara simultan dan integratif.
    Sementara itu, Asisten Daerah II Bagian Ekonomi Pembangunan dan
Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung Taufik Rachman dalam ceramah tarawih
perdana di Masjid Al-Ukhuwah menyatakan, puasa harus dijadikan momen
penting peningkatan kualitas pribadi. "Puasa jangan dijadikan beban
karena puasa itu menyehatkan, sehat jasmani dan rohani," ujarnya.

(Mohammad Hilmi Faiq)

Puasa

September 21st, 2007 by emhafaiq

PUASA HARI PERTAMA, KANTOR SEPI
                        Jadwal Harus Dipatuhi

Bandung, Kompas
    Pada hari pertama Ramadhan, Kamis (13/9), suasana perkantoran
sepi. Meskipun tetap berjalan, pelayanan publik tidak seramai di luar
Ramadhan. Wali Kota Bandung Dada Rosada pun libur kerja.

    "Bapak (Dada Rosada) hari ini tidak ada kegiatan karena puasa hari
pertama. Beliau hanya berdiam diri di Pendopo (Kota Bandung), mungkin
besok sudah beraktivitas seperti biasa," kata Yanos Septadi, ajudan
Dada Rosada.

    Di lingkungan Kantor Pemerintah Kota Bandung hanya beberapa
pegawai yang masuk kerja. Mereka lebih banyak duduk-duduk. Bahkan,
beberapa pegawai tidur-tiduran di Masjid Al-Ukhuwah yang tidak jauh
dari Kantor Pemerintah Kota Bandung. Ada juga yang menunggu waktu
shalat dzuhur sembari mendirikan shalat duha.

    Suasana serupa juga terjadi di Kantor Unit Pelayanan Satu Atap di
Jalan Cianjur. Meskipun kantor pelayanan publik ini tetap buka,
suasananya tidak seramai di luar Ramadhan. Hanya beberapa pegawai yang
setia menjaga loket.

    Namun, ada rombongan ibu-ibu pegawai yang terdiri dari dua sampai
tiga orang bersiap-siap meninggalkan kantor meski masih dalam jam
kerja. "Maklum, ini kan hari pertama puasa," kata seorang pegawai.
    Andi (26), tukang parkir di Kantor Unit Pelayanan Satu Atap,
mengatakan, sepinya pengunjung dan pegawai pada awal bulan puasa
merupakan hal biasa. Biasanya memasuki hari keempat puasa kantor
kembali ramai. Mungkin karena masih beradaptasi," ujarnya.

    Menurut Surat Edaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat Nomor
061.2/29/Org tertanggal 10 September, yang merujuk pada Surat Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor SE/27/ M.PAN/10/2004
tanggal 14 Oktober 2004, ditegaskan bahwa waktu istirahat adalah pukul
12.00-12.30. Kecuali hari Jumat, waktu istirahatnya mulai pukul
11.30-12.30.

    Dalam surat itu juga diatur bahwa jam pulang kerja untuk instansi
yang memberlakukan lima hari kerja adalah pukul 15.00 untuk hari biasa
dan pukul 15.30 untuk hari Jumat. Adapun untuk instansi yang
memberlakukan enam hari kerja, waktu pulang kerja adalah pukul 14.00.
   Ini berlaku untuk semua pemerintah kabupaten/kota di Jawa Barat,
termasuk Kota Bandung.

Harus dipatuhi
    Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung
Riantono mengatakan, kalau sudah ditetapkan sedemikian rupa, jadwal
tersebut harus dipatuhi. Tidak ada pembenaran untuk melanggarnya.   
"Untuk urusan pelayanan pemerintahan harus berjalan, tidak memandang
apakah itu sedang bulan puasa atau tidak. Jangan sampai ada perbedaan
tingkat pelayanan antara saat puasa dan di luar puasa, ungkapnya.

    Menurut Riantono, pengaturan jadwal kerja selama bulan puasa
tersebut sudah berdasarkan berbagai pertimbangan. Oleh karena itu,
sangat tidak bijak kalau pegawai melanggarnya dan kemudian menyalahkan
puasa.

    Sementara itu, bukan hanya kantor pemerintahan yang sepi,
melainkan juga Kantor DPRD Kota Bandung. Tempat parkir yang biasanya
diisi mobil mewah anggota DPRD itu tampak lengang. Dalam daftar hadir
hanya ada enam anggota DPRD yang membubuhkan tanda tangan.

    Sementara pada pukul 13.00, Gedung DPRD Kota Bandung sudah amat
sepi. Hanya Wakil Ketua Komisi B M Iqbal Abdul Karim, anggota Komisi B
Adi Wahyono, dan beberapa pegawai Sekretariat DPRD Kota Bandung yang
masih berada di sana.

    Sebanyak 13 anggota DPRD Kota Bandung dikabarkan sedang ke Jakarta
untuk berkonsultasi ke Departemen Dalam Negeri tentang struktur
organisasi dan tata kerja Kota Bandung. Anggota DPRD Kota Bandung
lainnya tidak hadir tanpa penjelasan.
 (MHF)

Laptop

September 21st, 2007 by emhafaiq

Kompas, Jabar- 13 September 2007Fs

Anggota DPRD Dapat Laptop Baru

Harga Setiap Unit Rp 19,8 Juta

Anggota Panggar DPRD Kota Bandung Endrizal Nazar tengah mengoperasikan laptop di kantor Farksi PKS, Rabu (12/9). Sekretarait DPRD Kota Bandung mendistribusikan 21 laptop baru kepada anggota DPRD Kota Bandung.

Bandung, Kompas - Meskipun sempat memunculkan berbagai kritik dan kecaman, proyek pengadaan laptop untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung terus berjalan. Bahkan, kini 21 anggota DPRD Kota Bandung telah mendapatkan laptop tersebut.

Sekretaris DPRD Kota Bandung Ebet Hidayat, Rabu (12/9), mengatakan, laptop-laptop tersebut sudah tersedia sejak Jumat. Sebanyak 15 laptop didistribusikan kepada anggota Panitia Anggaran DPRD Kota Bandung, 3 unit untuk pimpinan DPRD Kota Bandung, 1 unit untuk Badan Kehormatan, 1 unit untuk Panitia Urusan Rumah Tangga, dan 1 unit untuk Panitia Legislasi. Satu unit lagi masih menunggu keputusan Ketua DPRD Kota Bandung Husni Muttaqin.

Sebelumnya, tahun 2004, setiap pimpinan DPRD Kota Bandung telah mendapat satu laptop. "Dengan mendapatkan laptop baru, (laptop) yang lama sudah kami tarik dan sekarang digunakan di Sekretariat DPRD," kata Ebet.

Beda spesifikasi

Spesifikasi laptop yang diterima anggota DPRD Kota Bandung kali ini lebih bagus dibandingkan dengan yang ditawarkan pemenang tender pada awal lelang. Namun, CV Adhitiya Darma sebagai pemenang tender kesulitan mencari laptop dengan spesifikasi itu. Awalnya, spesifikasi laptop adalah merk Sony Vaio dengan ukuran monitor 11,1 inci. Memorinya mencapai 1 gigabit (GB) dengan kapasitas hard disk 60 GB.

Laptop tersebut juga dilengkapi dengan wireless network intel PRO/Wireless 3945 ABG, wireless bluetooth versi standar 2.0, slot provided, card reader provided, serta interface provided. Sistem operasi yang digunakan dilindungi dengan lisensi, yakni O/S provided Microsoft Windows Vista Business. Prosesornya menggunakan Intel Core Solo U 1400.

Beberapa spesifikasi itu kemudian berubah, antara lain memorinya menjadi 2 GB dengan kapasitas hard disk 80 GB, wireless network intel PRO/Wireless 2200 BG, modem integrated, dan audio yang awalnya compatible menjadi integrated. Total biaya mencapai Rp 436 juta atau Rp 19,8 juta per unit.

"Bagi kami tidak masalah, yang penting laptop itu minimal sesuai dengan spesifikasi awal atau kalau bisa lebih bagus," kata Ebet.

Minta dilatih

Anggota Panitia Anggaran, Endrizal Nazar, tampak membawa laptop baru dan bersiap mengutip data di dalamnya untuk menjelaskan kepada wartawan di Kantor Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. "Saya menerima laptop baru ini pada Jumat kemarin," ujar Enrizal.

Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Herry Mei Oloan juga telah menerima laptop sejenis, kemarin. Namun, dia mengaku belum sepenuhnya mampu mengoperasikan fitur di dalamnya. Dia baru bisa mengoperasikan beberapa program, seperti Microsoft Word dan Excel. Untuk menyambungkan laptop dengan internet, Herry masih kesulitan.

Oleh karena itu, dia meminta agar Sekretariat DPRD Kota Bandung segera menyelenggarakan pelatihan. Dengan demikian, anggota DPRD Kota Bandung dapat menggunakan laptop secara maksimal dan bekerja lebih optimal.

Menanggapi hal ini, Ebet mengatakan, pihaknya akan segera menggelar pelatihan pengoperasian laptop bagi anggota DPRD. Materi pelatihan ini akan dimulai dari dasar-dasar pengetahuan laptop dan internet. "Bagi anggota DPRD yang kemampuan mengoperasikan laptopnya di atas rata-rata, tetap dilatih dari awal atau untuk sementara dia tidak masuk kelas dulu," Ebet menjelaskan.

Namun, dia belum tahu secara detail materi yang akan diber ikan. Pihaknya masih mencari konsultan untuk membicarakan hal ini. "Waktunya juga kami belum bisa memastikan," ujarnya. (MHF)

Bawaku Makmur

September 21st, 2007 by emhafaiq

Kompas jabar, 13 September 2007

Bawaku Makmur
Baru Tersedia Rp 4 Miliar

Bandung, Kompas - Pemerintah Kota Bandung meminta tambahan dana bantuan wali kota khusus atau Bawaku Makmur sebesar Rp 14 miliar. Namun, kebijakan umum dan plafon dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan tahun 2007 baru tersedia Rp 4 miliar.

Anggota Panitia Anggaran (Panggar) DPRD Kota Bandung, Endrizal Nazar, mengatakan hal itu kepada wartawan di kantornya, Rabu (12/9). Namun, menurut dia, tidak tertutup kemungkinan jumlah dana itu akan ditingkatkan. Semua bergantung pada hasil pembahasan APBD Perubahan.

Awalnya, Pemerintah Kota Bandung mengusulkan penambahan dana Bawaku Makmur dengan mengalihkan dana asuransi kesehatan untuk warga miskin (askeskin) yang nominalnya mencapai Rp 14 miliar. Alasannya, dana askeskin sudah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat sehingga Pemkot Bandung tidak perlu mengalokasikannya lagi.

Akan tetapi, ada sebagian komponen dalam askeskin yang tak dibayar pemerintah pusat, terutama bagi warga yang hanya memiliki surat keterangan tanda miskin. "Yang kami inginkan, jangan sampai ada warga miskin yang harus mengeluarkan biaya untuk berobat," ujar Endrizal.

Dana penyangga ini dialokasikan sebesar Rp 5,9 miliar. Pemkot Bandung perlu juga mengalokasikan anggaran untuk Rumah Sakit Daerah Ujungberung dan Rumah Sakit Bersalin Astana Anyar. Anggaran ini untuk pengadaan mobil ambulans, perlengkapan binatu, dan peningkatan sistem informasi manajemen rumah sakit. Ini untuk mendorong program Bandung Sehat 2007.

Dengan pengurangan tersebut, dana askeskin yang dapat dialihkan ke Bawaku Makmur hanya Rp 4 miliar. "Tetapi, jika ada pos yang tak efisien atau tak sesuai dengan prioritas, anggarannya akan dialihkan ke Bawaku Makmur," kata Endrizal.

Kepala Bagian Ekonomi Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, semua besaran yang diajukan ke Panggar DPRD Kota Bandung berdasarkan data nyata di lapangan. Ini yang harus menjadi pertimbangan DPRD Kota Bandung. "Kalau ternyata dalam APBD Perubahan besaran Bawaku Makmur belum mencukupi, kami berharap di APBD murni tahun 2008 kebutuhan Bawaku Makmur dapat diakomodasi," kata Ema. (MHF) 

Bahan Pokok

September 21st, 2007 by emhafaiq

Kompas Jabar

Kamis, 13 September 2007

Bahan Pokok
Siap Digelar Operasi Pasar

Bandung, Kompas - Meskipun harga berbagai bahan pokok cenderung naik, pasokannya akan mencukupi selama bulan puasa. Jika kenaikan harga sampai menimbulkan keresahan masyarakat, Pemerintah Kota Bandung akan segera menggelar operasi pasar.

"Selama ini stok bahan pokok di Kota Bandung tidak ada masalah. Kenaikan harga juga masih dapat ditoleransi," kata Kepala Bagian Ekonomi Kota Bandung Ema Sumarna di Bandung, Rabu (12/9).

Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung Atot Kustawa mengatakan, pihaknya terus memantau pasokan bahan-bahan pokok di sejumlah pasar tradisional. Pasar tradisional yang menjadi acuan antara lain Pasar Andir, Pasar Sederhana, dan Pasar Kosambi.

Pantauan dilakukan dua kali dalam seminggu, yakni pada Selasa dan Jumat. "Saat ini harga di pasar-pasar itu masih terjangkau meskipun permintaan barang relatif naik," ujar Atot.

Ia mengatakan, kenaikan harga berbagai bahan pokok berkisar 6-8 persen. Ambang batas kenaikan harga adalah 25 persen. ‘Namun, meski hanya naik 10 persen dan sudah menimbulkan gejolak di masyarakat, akan langsung digelar operasi pasar. "Biasanya kami periksa dulu. Jika barang sudah langka di pasar, barang yang ada di distributor atau produsen segera kami distribusikan dengan harga murah," kata Atot.

Kenaikan dan kelangkaan barang kebutuhan pokok amat bergantung dari jenis barang dan permintaan pasar. Kenaikan harga biasanya terjadi menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Harga berbagai bahan pokok di Pasar Cihaurgeulis mulai naik. Harga daging ayam yang biasanya Rp 18.000 per kilogram kini menjadi Rp 21.000 per kilogram. Harga telur curah dari Rp 9.500 menjadi Rp 11.000 per kilogram. Harga kacang buncis dari Rp 3.000 per kilogram menjadi Rp 3.500 per kilogram. Harga mentimun pun menjadi Rp 5.000 per kilogram dari semula Rp 3.500 per kilogram.

Meskipun harga naik, omzet pedagang stabil. Rohmat (28), pedagang sayur-mayur, mengatakan, dalam sehari omzetnya mencapai Rp 2 juta. Dia berharap menjelang Lebaran nanti omzetnya meningkat sehingga bisa mudik ke kampungnya di Garut. (MHF)

Musibah Tsunami

July 25th, 2006 by emhafaiq

KOMPAS - Kamis, 20 Jul 2006

Musibah Tsunami
                
KITA SELALU GAGAL MEMBACA TANDA ALAM
                          Oleh Mohammad Hilmi Faiq

    Agak sulit membayangkan Pantai Pangandaran yang elok tiba-tiba
penuh mayat, reruntuhan rumah, dan sampah. Pantai yang biasanya akrab
dengan keriangan mendadak lenyap setelah digoyang gempa dan disapu
tsunami, Senin (17/7) lalu.
    Ratusan warga dengan wajah murung memunguti barang dagangan,
perabot rumah, atau barang-barang lain yang masih tersisa. Sebagian
di antara warga yang malang itu tampak bersandar di dinding retak,
memandang sekelilingnya dengan tatapan kosong. Sebagian lagi hanya
bisa menangis di bawah pohon tak jauh dari pantai.
    Sebagian besar warga di Pangandaran yang menjadi kelompok paling
menderita karena amukan tsunami menyimpan ceritanya sendiri.
    Karti (45), yang ditemui di tempat pengungsian Masjid Agung
Pangandaran Al-Istiqomah, Rabu kemarin, bercerita dua minggu sebelum
tsunami meluluhlantakkan rumah dan dagangannya, ia merasakan suasana
aneh. Suhu di sekitar rumahnya mendadak terasa dingin sekali sehingga
badannya terasa ngilu.
    "Memang saat bulan Juli atau Agustus udara di sini biasa dingin.
Tetapi, yang kemarin itu dinginnya lain, seperti terasa sampai ke
tulang. Saya sampai merasa ngilu dan linu," katanya.
    Karena udara yang kurang bersahabat itu, Karti pun mengurangi
kegiatannya. Perempuan paruh baya yang biasa membuka tokonya dari
pukul 08.00 hingga menjelang magrib ini sering menutup tokonya lebih
awal. "Saya takut kalau terus-terusan terkena udara dingin, bisa
sakit," ujarnya.
    Pengalaman serupa dialami Ani (23), tetangga Karti yang tinggal
di Desa Pangandaran. Ani menceritakan, akibat suhu udara yang tidak
biasa, setiap keluar rumah ia selalu memakai baju hangat atau
jaket. "Udaranya seperti udara AC, dingin banget, padahal
Pangandaran ini kan terkenal panas," ujarnya.
    Lain lagi cerita Paino (36). Pria yang hobi memancing ini
bercerita bahwa beberapa hari sebelum tsunami warga sekitar Jalan
Jagalautan, lebih kurang 500 meter dari Taman NasionalCagar Alam,
menemukan seekor burung hantu. Burung ini diyakini berasal dari hutan
di Taman Nasional Cagar Alam.
    Menurut Paino, sejak kecil tinggal di Pangandaran, baru kali ini
dia melihat burung hantu masuk kampung. "Waktu itu malam hari, saat
saya mendengar bunyi burung hantu. Dekat sekali. Setelah saya keluar,
burung itu ada di depan pintu," kata Paino. Namun, dia tidak peduli
dan kembali tidur.
    Keesokan harinya burung itu ditangkap seorang warga dan dirawat.
Sampai di sini Paino menganggap hal tersebut bukan kejadian aneh atau
berhubungan dengan hal-hal mistis. Pria yang acap kali menghabiskan
waktu di cagar alam itu menduga burung hantu tersebut mungkin
meninggalkan hutan karena sedang mencari makan.
    Cerita Paino berlanjut. Beberapa jam menjelang datangnya tsunami,
tepatnya Senin pukul 14.30, saat hendak memancing di Cangkrungan, dia
menyaksikan kalong (kelelawar besar) berhamburan di tengah hutan
menuju ke arah utara. Bagi Paino, kejadian ini sungguh aneh karena
kalong biasanya keluar dari sarang menunggu gelap datang.
    "Saya biasa ke hutan dan tahu persis kapan kalong keluar.
Sebelum petang, jarang mereka keluar dari sarangnya untuk mencari
mangsa," ujar Paino.
    Meskipun demikian, Paino belum sadar betul serangkaian pertanda
yang dia temui. Baru beberapa jam kemudian dia menemukan jawabannya.
    Ketika asyik menunggui kail, dia dikejutkan suara gemuruh yang
datang dari tengah laut. "Saya menyaksikan sendiri ombak besar itu
menghantam bagan (menyerupai gubuk, tempat nelayan memasang jaring di
laut) dan mendekati pantai. Beberapa orang yang sedang menjala ikan
juga lari sambil berteriak. Saya langsung lari ke atas," tutur Paino.
    Dari rangkaian kejadian ini, Paino lalu menduga-duga pesan yang
disampaikan melalui pertanda yang dia temui. "Saya yakin, saat
burung hantu itu lari ke kampung dan kalong buyar, itu karena mereka
lebih dulu dapat merasakan akan adanya bencana atau amukan alam,"
ujarnya.
    Sama seperti Paino, warga, aparat pemerintah, dan para pakar
seolah gagal membaca gejala alam yang biasa muncul sebelum tsunami.
Sebelum tsunami menerjang Aceh dua tahun lalu, gejala serupa juga
ditemui masyarakat di sana.
    Gempa berkekuatan 6,8 SR yang diikuti tsunami setinggi lima meter
telah lewat. Tsunami ini menghantam sisi timur dan barat Pantai
Pangandaran. Akibatnya, bangunan di sepanjang garis pantai porak
poranda.
    Di sepanjang Pantai Pangandaran jalan masih tertutup pasir yang
terbawa gelombang. Reruntuhan bangunan dan sisa-sisa amukan ombak,
seperti perahu yang terbelah, rongsokan mobil, atau kayu dan batu
berserakan di sepanjang jalan.
    Di Jalan E Nurbaen, tak jauh dari pertigaan Pasangrahan menuju
Taman Nasional Cagar Alam, lalu lintas terputus akibat tumpukan bekas
gubuk dan perahu yang memenuhi ruas jalan.
    Sarana pengamanan Pantai Pangandaran, seperti rubber boat, menara
pengawas, mobil Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista), dan sarana
komunikasi juga tak luput dari amukan tsunami. Penerangan jalan umum
dan mesin anjungan tunai mandiri juga mati total.
    Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran hancur. Tinggal tiang-
tiang beton dan papan nama. Sementara itu, ratusan kios dan rumah
makan bernasib serupa. Meski sebagian bangunan masih tampak berdiri,
sudah tak jelas lagi mana pintu mana jendela, serba berantakan.
    Menurut catatan Satuan Koordinasi Pelaksana Bencana Kabupaten
Ciamis, jumlah hotel di Pantai Pangandaran yang rusak mencapai 63,
sedangkan rumah makan yang rusak sedikitnya berjumlah 34 unit, dan
perahu 162 buah. Ini belum termasuk ratusan rumah warga yang rusak
berat dan ringan.
    Selain merusak secara fisik, tsunami juga menimbulkan luka jiwa.
Sebagian warga mulai paranoid terhadap gempa. Mereka mudah panik
ketika mendengar isu gempa susulan. Seperti yang terjadi kemarin
siang, warga berhamburan lari menjauhi laut karena mendengar isu air
kembali pasang. "Saya lari karena ada yang berteriak tsunami," kata
Andreas (23).
    Bahkan ada warga yang menjadi takut terhadap gelombang laut dan
bertekad pindah rumah "Biar harta saya habis. Saya mau pulang ke
orangtua saja," kata Imas (18), yang berduka karena ibunya menjadi
salah seorang korban tewas dalam malapetaka tersebut.

July 24th, 2006 by emhafaiq

Bencana Tsunami

KOMPAS - Rabu, 19 Jul 2006 

               GEMURUH BAK SUARA PULUHAN PESAWAT JET…
               Oleh M Hilmi Faiq dan Adhitya Ramadhan

    Vivi Indrawati (26) sama sekali tidak membayangkan rumahnya akan
luluh lantak diterjang tsunami.   
    Sekitar pukul 16.00, Senin (17/7), ketika ia hendak menikmati
udara Pantai Pangandaran seperti biasanya, sejenak langkah Vivi
terhenti saat merasakan guncangan tanah yang dipijaknya.
    Hanya itu. Vivi sama sekali tidak menyadari guncangan itu gempa
bumi. "Saya kira tidak berbahaya, makanya saya teruskan jalan-
jalan," paparnya saat mengumpulkan sisa barang dari puing-puing
rumahnya, Selasa (18/7).
    Vivi baru menyadari adanya ancaman bencana setelah melihat
sebagian bibir pantai yang longsor disertai suara gemuruh yang datang
dari tengah laut. Ia langsung berlari ke arah Pasar Wisata yang
berjarak sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Benar saja, selang
beberapa menit Vivi mendengar ledakan dahsyat diikuti gunungan
gelombang setinggi 4 meter. "Saya tidak dapat menggambarkan suaranya
seperti apa. Yang pasti saya sangat takut," katanya.
    Gelombang pasang itu sempat "mengejar" Vivi sampai ke Pasar
Wisata. "Di sana ombak tinggal segini," kata Vivi sambil menunjuk
tumitnya. "Tetapi saya benar-benar panik sehingga saya melompat ke
pagar setinggi kira-kira 1,5 meter," ujarnya.
    Saksi lain menuturkan, gelombang pasang besar itu terjadi setelah
didahului gempa empat atau lima kali. Sama seperti Vivi, Dayusman
(34) sama sekali tidak menduga akan datang gelombang besar.
    "Karena saya kira gempa itu akan berlalu, saya teruskan niat
saya untuk shalat ashar. Tapi saat rakaat ketiga, muncul gelombang
besar dari tengah laut. Saya lari dan tidak sempat menyelamatkan anak
saya," kata Dayusman, yang kehilangan anak semata wayangnya yang
baru berusia empat tahun.
    Inilah yang paling disesali Dayusman. Sepanjang malam, pria yang
bekerja di Rumah Seni milik Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat
itu menunggui jasad anaknya yang membeku di Puskesmas Pangandaran.
Tempat Dayusman bekerja hanya berjarak sekitar 50 meter dari pantai,
dan anaknya saat itu tengah bermain di pantai.
    Kepala Personalia Hotel Pantai Uni Ametha Sanara menceritakan,
saat datang gelombang pasang ia baru saja ganti shift (gilir kerja)
dengan pekerja lainnya. Anehnya, Ametha tidak merasakan gempa sama
sekali menjelang munculnya gelombang pasang.
    "Saya tidak merasakan adanya guncangan atau yang lain, tetapi
saya mendengar ledakan keras seperti bom dari tengah laut. Saya
langsung melihat ke laut dan tampak gelombang besar menuju hotel.
Saya langsung teriak," tuturnya.
    Saat gelombang menghantam hotel, Ametha mencium bau belerang dan
melihat air berwarna hitam. "Baunya seperti belerang atau amoniak
dan warnanya sangat pekat," ujarnya.
    Seketika itu, Ametha yang berada di lantai dua berlari menuju
belakang hotel untuk menyelamatkan diri. Saat kejadian, di hotel
dengan 103 kamar tercatat 42 tamu dan ada 11 pegawai, termasuk
Ametha. Semua tamu hotel selamat. Kerusakan hotel mencapai 50 persen.
Sementara bangunan lain di sepanjang Pantai Pangandaran, dengan
radius 30 meter dari bibir pantai, ludes.
    Menurut Tina Minogue, sebelum terjadi gelombang besar terjadi
rentetan gempa yang disebutnya lindu. "Lindu itu tidak keras.
Rasanya seperti diayun dan lampu-lampu rumah ikut bergoyang," kata
Tina, warga Selandia Baru yang sudah 13 tahun menetap di Pangandaran.
    Gempa pertama, menurut Tina, terjadi sekitar pukul 15.40.
Kemudian disusul dengan gempa lainnya, dan yang paling keras
guncangannya adalah gempa pada pukul 16.15. Tak lama setelah itu ada
gemuruh seperti puluhan pesawat jet yang diikuti dengan teriakan,
tsunami…! tsunami…!
    Menyadari adanya ombak besar, Tina, suami, dan anak mereka
serentak berlari ke lantai dua untuk menyelamatkan diri. "Syukurlah,
semua selamat. Air yang masuk hanya setinggi betis, tapi rumah saya
jadi kotor sekali dan berantakan," ujar Tina yang rumahnya hanya
sekitar 70 meter dari pantai.
    Meskipun demikian, Tina mengaku tidak trauma dengan laut. "Pagi
harinya saya lihat ke laut. Oh, pantaiku indah sekali. Tetapi saya
amat sedih, kasihan sekali mereka," kata Tina saat berkunjung ke
salah satu tempat pengungsian, Masjid Agung Al-Istiqomah di
Pangandaran.
    Maman (28), nelayan dari Pantai Bojongsalawe, Kecamatan Parigi,
menuturkan, saat bencana menimpa, ia sempat melihat istrinya,
Maesaroh (26), berlari menghindari terjangan ombak sambil menggendong
bayi mereka yang baru berusia satu bulan. Beruntung, Maesaroh
terhindar dari bencana karena berlindung di balik bangunan koperasi
di dekat rumahnya.
    Maman menemukan istrinya pada pukul 23.00 di pegunungan tempat
Maesaroh mengungsi. Sayangnya, sampai sekarang Maman masih belum
bertemu dengan dua anaknya, Ihsan Nur Arifin (5) dan Ilham Nur Arifin.

Foto: 1
Kompas/Heru Sri Kumoro

Akibat terjangan gelombang pasang, kawasan wisata Widara Payung Wetan
di Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, porak poranda, Selasa
(18/7).