Handphone
Sunday, September 25th, 2005Handphone Sebagai Ikon Pop Culture
M. Hilmi Faiq
“Hari gini ga punya handphone?”
(Iklan Mobile
HANDPHONE (HP), yang lima tahun lalu masih menjadi barang langka dan hanya mampu dimiliki oleh kelas ekonomi atas, kini telah mengalami transformasi total menjadi komoditas jelata. Perhatikan, hampir tak ada kelas ekonomi yang tidak dapat menikmati kemajuan teknologi yang bernama HP. Mulai dari petani, nelayan, tukang bangunan, pelajar, mahasiswa sampai mereka yang mapan secara ekonomi seperti pengusaha, pejabat dan sebagainya, kemana-mana menenteng HP.
Ironisnya, sebagian pemakian HP secara luas di masyarakat bukan dipicu oleh arti guna dan manfaat HP itu sendiri, tetapi lebih disebabkan gensi dan prestige. Artinya, masyarakat telah terseret dan terhipnotis untuk menilai manusia lain hanya dari simbol-simbol yang melekat pada dirinya. Inilah yang dikatakan Jean Baudrillard sebagai kelahiran dunia simulasi (simulacrum). Bila kita jalan-jalan ke Afganistan dan sempat mampir ke sebuah departemen store atau tempat umum lainnya, misalnya, ketika kita dapati HP berdering, maka hampir semua orang yang ada di situ serentak merogoh kantong. Selain itu, mereka sengaja menyeting ponsel dengan nada nyaring ketika berada di karamaian. Sikap ini akibat mereka ingin dianggap berada dan tidak ketinggalan zaman.
Dalam masyarakat simulasi seperti ini, segala sesuatu ditentukan oleh relasi tanda, citra dan kode. Tanda adalah segala sesuatu yang mengandung makna, yang mengikuti teori semiologi Saussurean memiliki dua unsur, yakni penanda (signifier) dan petanda (signified). Citra adalah segala sesuatu yang nampak oleh indera, namun sebenarnya tidak memiliki eksistensi substansial. Sementara kode adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan dari seseorang kepada orang yang lain (Piliang, 1998: 13).
Dalam dunia simulasi, identitas seseorang misalnya, tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda, citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. Lebih lanjut, realitas-realitas ekonomi, politik, sosial dan budaya, kesemuanya diatur oleh logika simulasi ini, di mana kode dan model-model menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami lingkungannya (Hidayat, 2001).
Sementara itu, ketika kontruksi tanda tersebut dikonsumsi dan melekat pada masyarakat secara kolosal, maka muncul gejala baru, yakni budaya populer (pop culture).
Nah, dalam hal ini, kemuncullan HP menjadi monumen penting bagi kejayaan pop culture. Dia merambah kesemua kelas tanpa tabir etnis, suku, agama, politik maupun budaya itu sendiri. Menjadikan HP sebagai alat komunikasi dan gengsi, menjadi budaya yang amat populis di masyarakat kita saat ini. HP telah menjadi ikon budaya populer (pop culture). Maka, mengutip cuplikan iklan sebuah produk jasa operator seluler di atas, menjadi cela berat jika di jaman setua ini, masih ada yang belum pegang HP. Provokatif memang.
Berkaitan dengan ini, Umberto Eco, mengklasifikasi pengguna HP ke dalam lima katagori. Pertama, kelompok orang cacat yang sewaktu-waktu harus menghubungi dokter atau pelayanan medis. Bagi kelompok ini, HP memiliki fungsi yang amat vital. Dia bukan lagi sebagai sarana pemuas prestige, tetapi sebagai perpanjangan tangan Tuhan yang akan menolongnya. Artinya, nampak betul fungsi kemanusiaan bagi penemunan teknologi ini. Karenanya, kelompok tadi layak bersyukur dan berterima kasih kepada penemu teknologi HP.
Kedua, mereka yang secara profesional harus bisa dikontak kalau sewaktu-waktu keadaan darurat. Kelompok ini meliputi dokter kandungan, polisi, petugas pemadam kebakaran, atau juga orang penting yang banyak dibutuhkan masyarakat luas. Dalam impresi kelompok ini, boleh jadi HP bukan lagi alat yang menyenangkan, karena sewaktu-waktu dapat mengerosi kenyamanan serta keleluasaan dalam menikmati hidup: liburan, saat santai dan sebagainya. Akan tetapi, HP merupakan keharusan teknologi yang harus mereka miliki. Pasalnya, mereka bukan lagi pribadi yang didominasi egosentri, melainkan sesosok manusia yang juga milik publik. Dan, di sanalah mereka eksis.
Ketiga, Eco memasukkan para peselingkuh. Telepon genggam menjadi sarana efektif untuk mengembangbiakan jalinan asmara ilegal (perselingkuhan). Kaum peselingkuh, dapat menghubungi pasangan simpanannya tanpa harus menanggung resiko dijahili pasangan resminya atau anggota keluarga lain. Pada titik ini, HP dapat menjadi petaka lembaga keluarga karena dukungannya yang begitu optimal terhadap manajement selingkuh.
Keempat, adalah kelompok yang seolah-olah HP menjadi jari kesebelasnya, tak terpisahkan. Kelompok ini telah mejadikan HP sebagai candu, mereka haus untuk mengontak siapa saja. Mereka gelisah, resah, bahkan stress jika dalam jangka waktu tertentu tidak mengkontak atau dikontak. Muncul dorongan luar biasa dari dalam dirinya untuk selalu ber-handphone ria. Mereka amat girang dan semangat tatkala Hp berdering, tak peduli dimana pun.
Kelompok kelima, adalah orang-orang yang ingin menunjukan dan dianggap oleh publik sebagai orang penting, betapa mereka amat dibutuhkan. Mereka akan bicara keras-keras jika ada orang di sekelilingnya. Sok sibuk, penting dan dibutuhkan. Pembicaraan mereka tidak jauh dari persoalan tender, kenaikan pangkat, pertemuan dengan petinggi tertentu serta seabrek tema yang melahirkan impresi bahwa mereka memang penting untuk dihubungi.
Perhatikan, di tangan dua kelompok terakhir ini HP hanya akan menjadi penganggu yang efektif bagi orang-orang di sekitarnya. Bayangan, betapa sebelnya Anda jika berada di dekat mereka. Dua kelompok terakhir ini barangkali kelas sosial yang digambarkan Richard Robison dan David Goodman dalam The New Rich in Asia: Mobile Phones, McDonalds and Middle-Class Revolution sebagai kelompok nouveau riche atau kaya baru ini boleh jadi belum mengerti, bahwa manusia yang berkuasa, efektif, bekerja, tidak perlu harus menjawab semua panggilan telepon (Redana, 2001). Berita penting masih bisa disampaikan lewat sopir atau pembantu dengan cara-cara manusiawi.
Dari sisi moral terlihat jelas bahwa keberadaan HP di tangan dua kelompok di atas akan kehilangan signifikasinya. Dia cenderung menjadi dangkal (deptless), permukaan (surface) dan miskin makna (meaningless). Karena landasan nilai tempat manusia berdiri dan tali kepercayaan tempat orang berpegang luluh-lantak diterpa arogansi gengsi. Nah, Anda termasuk katagori yang mana?
NB: Tulisan ini belum pernah dimuat di media massa manapun