KOMPAS Jawa Timur - Senin, 29 Nov 2004
MENYISAKAN IBA UNTUK ODHA
LAJU pertumbuhan pengidap HIV/AIDS benar-benar sulit
dikendalikan. Betapapun berbagai upaya telah diterapkan, jumlah orang
dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap tinggi. Di Jawa Timur, hingga akhir
tahun 2003, tercatat tidak kurang dari 2.685 kasus HIV dan sebanyak
1.230 pengidap AIDS. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen menimpa
kalangan pekerja yang berada dalam usia produktif (Kompas,
13/7/2004).
Mulanya, HIV/AIDS ditemukan pada kelompok homoseks di San
Fransisco pada tahun 1981 dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk
Indonesia, pada tahun 1987. Sekarang bukan hanya karena homoseks atau
seks bebas, bayi yang tidak tahu apa-apa juga terinfeksi. Konsentrasi
virus ini sangat banyak di dalam tubuh, seperti darah, organ kelamin
perempuan (vagina), dan sperma.
Untuk Jatim, kasus HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1987.
Sejak saat itu jumlahnya merangkak naik. Penyebab, perantara, serta
penularannya amat beragam, mulai dari hubungan seks, suntikan, kaum
homoseks (gay dan lesbian), ibu hamil, transfusi darah, sampai dengan
akibat penyakit gangguan pembekuan darah.
Penyebaran tempat tinggal ODHA pun amat sporadis. Penanggulangan
HIV/AIDS secara intensif diprioritaskan di daerah tertentu. Prioritas
mencakup enam provinsi, yakni Papua, Riau, DKI Jakarta, Bali, Jatim,
dan Jawa Barat. Paling tidak ada dua alasan dilakukannya
penanggulangan berdasarkan pada prioritas di enam provinsi tersebut.
Pertama, keterbatasan dana pemerintah. Kedua, di enam provinsi
tersebut terdapat tanda-tanda penyebaran HIV yang mengkhawatirkan.
Memang, sampai kini HIV/AIDS masih identik dengan pola hidup
metropolis. Namun, bukan berarti mereka yang hidup di pedesaan aman
dari incaran epidemi ini. Ingat, HIV/AIDS menyerang tanpa pandang
bulu. Orang yang memiliki gaya hidup normal pun dapat terjangkiti.
Penyebabnya, misalnya, pasangan hidupnya (suami, istri, atau pacar)
memiliki kebiasaan tidak sehat atau terjangkit HIV/AIDS.
Sebagai perbandingan, di Papua HIV/AIDS telah menjadi epidemi
yang sulit dibendung. Di sana, anak kecil, orang baik-baik yang jauh
dari perbuatan dosa, serta mereka yang tinggal di gubuk-gubuk reyot
pun mengidap HIV/AIDS. Untuk itu, sangat penting bagi kita mewaspadai
incaran penyakit mematikan ini.
Meskipun demikian, bukan berarti kita harus menyingkirkan para
ODHA. Selama ini muncul kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan
bagi para ODHA. Selain mereka harus berperang melawan penyakit yang
bersarang di tubuhnya, mereka juga harus dikucilkan, diisolasi,
dicemooh, dilaknat, dan disia-siakan masyarakat.
Mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya tidak lain adalah minimnya
informasi yang dimiliki publik. Selain itu, informasi seputar
HIV/AIDS yang mereka dapat sering kali tidak akurat dan bahkan
dibumbui dengan mitos-mitos. Celakanya, mitos yang berkembang
tersebut mengesankann bahwa ODHA memang harus dijauhi.
Memang, sebagaimana disinyalir Dadang Hawari, seorang psikiater
yang juga pejuang melawan HIV/AIDS, para ODHA pada umumnya adalah
penzina dan pecandu, kecuali yang lagi apes. Namun, ini bukan berarti
kita harus menyingkirkan mereka sama sekali dari sisi kemanusiaan.
Kondisi ini justru akan memperparah kondisi ODHA. Bahkan, bisa jadi
karena mereka kecewa dengan perilaku masyarakat terhadapnya, akhirnya
dengan sengaja menyebarkan penyakit yang mereka derita. Ini bisa
gawat.
Para ODHA, sebagaimana juga dengan kita, adalah manusia biasa
yang mebutuhkan sentuhan kasih sayang, kelembutan, perhatian, dan
pekerjaan. Dalam keputusasaan, ODHA tetap membutuhkan perhatian,
uluran tangan, dukungan moral, dan materiil.
Bisa dipastikan, seseorang yang divonis positif mengidap HIV/AIDS
akan dilanda kegelisahan. Namun, sebagian besar kegelisahan ini
ternyata bukan karena dia harus berjuang keras melawan penyakit di
tubuhnya atau karena harus menemukan obat yang harganya tidak murah
itu. Kegelisahan mereka lebih dikarenakan perasaan gamang dan takut
berbaur dengan masyarakat luas. Pasalnya, para ODHA sadar bahwa
masyarakat masih salah dalam memahami HIV/AIDS dan menyebabkan mereka
menghindari ODHA.
Sebenarnya, kebutuhan mendasar ODHA selain obat adalah kebutuhan
afiliasi (affiliation need). Mereka membutuhkan seseorang untuk
berbagi derita yang dialami. Mereka membutuhkan uluran tangan
konselor yang memberikan suntikan informasi seputar HIV/AIDS dan
semangat hidup sehingga hidupnya bisa terjaga dan tidak berbahaya
bagi orang lain.
Itu pun belum cukup. Para ODHA juga membutuhkan sentuhan serta
berbagi dengan sesamanya. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk
memfasilitasi sebuah komunitas ODHA. Dengan adanya komunitas sesama
ODHA, setidaknya mereka akan menemukan semangat baru dalam hidupnya
untuk bisa tegar sebagai ODHA. Sebab, mereka semakin sadar bahwa
penderitaannya juga dirasakan orang lain. Hal yang lebih penting
lagi, sudah saatnya kita memberangus stigma-stigma seputar ODHA yang
didasarkan pada informasi yang salah.
M HILMI FAIQ
Sarjana Psikologi
dan Sekretaris ReSIST Malang
Halaman F