Sastra Sufi di Tengah Himpitan Rezim Represif
Tuesday, January 10th, 2006Sastra Sufi di Tengah Himpitan Rezim Represif
Judul Buku : Oposisi Sastra Sufi
Penulis : Aprinus Salam
Editor : Retno Suffatni
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2004
Tebal : LKiS, Yogyakarta(termasuk indeks)
Peresensi : M. Hilmi Faiq (Mahasiswa Psikologi UMM)
YOGYA selama ini dikenal sebagai kota yang amat identik dengan nilai Jawa. Jika Jawa merupakan representasi dari Indonesia, maka yogya adalah titik sentral kelahiran budaya Indonesia. Bila dilacak secara historis, dari kota ini telah melahirkan tidak sedikit individu maupun kelompok-kelompok pergerakan kebudayaan. Menengok ornamen-ormanen fisik yang tergambar di seantero Yogya seperti Borobudur, keraton Yogya, maupun arsitektur bangunan rumah penduduk, terkesan jelas bahwa kota yang kental dengan nuansa keraton ini kaya akan nilai budaya. Bukan hanya itu, keagungan budaya Yogya juga termanifestasi dari sistem nilai yang dianut, seperti keluhuran, ruhani, bahkan magis. Tidak sulit kiranya melacak kelestarian nilai-nilai terebut, karena masyarakat Yogya amat identik dengan prilaku-prilaku yang mencerminkan kehalusan, sopan-santun, ramah, bersahabat, kompak, dan rukun. Kalau toh muncul letupan-letupan emosional seperti amarah atau konfilk fisik, kapasitasnya tidak begitu memadai, sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap sistem nilai yang telah mapan.
Nah, buku yang berjudul Oposisi Sastra Sufi ini mencoba memotret salah satu pergerakan budaya yang terjadi di Yogyakarta. Sengaja, obyek yang dijadikan kajian adalah puisi sufi pada era 1980-an sampai 1990-an. Secara spesifik, buku ini ingin mengupas latar sosial-politik kemunculan sastra sufi tersebut.
Untuk membangun distingsi yang jelas antara sastra sufi dengan sastra Islam atau sastra religius misalnya, maka Aprinus Salam menguaraikan beberapa ciri pokok sastra sufi. Bagi penulis yang juga peneliti pada Pusat Studi Kebudayaan UGM ini, sastra sufi merupakan sastra yang mempersoalkan prinsip tauhid, ke-Ada-an Tuhan, fana-baka, penetrasi Tuhan dan kehendak bebas manusia serta derivasi yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut. dari sini dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa, sastra sufi dengan sendirinya berdimensi religius dan islami, namun tidak selamanya sastra religius merupakan sastra sufi (hal. 2-3).
Bagi penulis yang dilahirkan di Riau ini, telah lama muncul kecenderungan masyarakat untuk memposisikan sastra sebagai fenomena yang hanya berhubungan dengan dunia khayalan. Hanya didekati oleh orang-orang iseng yang ingin menghabiskan waktu kosong, sehingga terkesan tidak ada hubungan signifikan dengan riuh-reda persoalan bangsa dan masyarakat. Selain itu, sastra seringkali hanya diapresiasi sebagai hiburan ekskusif, serta untuk memberi kesan dan legitimasi bahwa sebetulnya kita berperadaban. Sehingga terasa sekali bahwa sastra merupakan entitas yang terpinggirkan dan sunyi.
Bagi Salam, situasi paradigmatik ini kemudian berimbas pada kebijakan yang diambil oleh negara. Hampir bisa dipastikan bahwa kebijakan negara selama ini belum ada yang memadai terhadap dunia sastra, terutama sastra sufi.
Kecenderungan di atas kemudian melahirkan kecenderungan lain dari kelompok yang menginginkan sastra diapresiasi secara memadai. Sehingga dia mampu berperan secara berarti dalam proses sosial, politik dan budaya. Di Yogya, pada dekade 80-an secara teoritis upaya-upaya tersebut semakin berpengaruh dan lambat laun mendapat dukungan secara luas.
Secara panjang lebar, penulis yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM ini memaparkan secara panjang lebar mengenai munculnya sastra sufi pada dekade 80-an sampai 90-an dengan praktik kekuasaan Orde Baru. Seperti galib diketahui, orde baru dengan langgam kekuasaan Islam Jawa telah menjebak Indonesia pada situasi represif, demokrasi semu, dan sekularistik. Hal ini berimplikasi secara serius bagi Islam santri, yakni tersingkirnya peran sosial dan politk Islam. Kondisi tersebut secara diam-diam mendapat perlawanan dari sebagian intelektual (penyair) dengan mengartikulasikan wacana dan pemikirannya melalui sastra sufi. Pilihan strategis dan taktik ini didasarkan atas alasan bahwa sastra sufi tidak mudah terdeteksi karena dalam banyak hal dia hanya bergerak dalam domain epistemologi (hal. 176)
Jelas kiranya bahwa lahirnya sastra sufi di Yogya, atau bahkan Indonesia, bukan sekedar peristiwa sastra belaka. Sastra sufi lahir dari diskursus, dialog, representasi, gesekan dan negosiasi dengan kehidupan nyata yang tidak bisa dibilang mudah. Itulah politik sastra, yang berada di jalur oposisi atau pinggiran.