Archive for June, 2006

Warung Bangkrut karena Sampah

Friday, June 2nd, 2006

Kompas Jumat, 26 Mei 2006

Dampak Buruk
Warung Bangkrut karena Sampah

Mohammad Hilmi Faiq

Fatimah menghabiskan makan siang di warungnya dengan lahap. Ia seolah tak peduli dengan tumpukan sampah yang berada sekitar 2 meter di depan warungnya. Padahal, bau sampah sudah tercium dari radius 15 meter. "Kalau bau sampah mah saya sudah terbiasa, tetapi pembeli tidak datang kalau bau begini," ujarnya seusai menghabiskan makan siang, Kamis (25/5).

Sudah sejak lama warung Fatimah di Pasar Cihaurgeulis ditinggalkan pelanggan akibat tumpukan sampah yang tak terangkut menyusul ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cicabe, 14 April lalu. Akhirnya, ibu dua anak ini memutuskan menutup warungnya sejak sebulan lalu dan baru dua hari ini buka kembali. Bukan hanya sepinya pembeli yang mendorong Fatimah menutup warungnya, tetapi warga Kelurahan Sukapada, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, juga sering mengeluh mual dan pusing.

"Dulu baunya luar biasa. Belum lagi lalat dan belatung. Sekarang mah sudah berkurang karena sebagian sampah sudah diangkut," kata Fatimah.

Meski demikian, bau sampah masih cukup mengganggu. Bahkan, Fatimah belum berani membawa serta anak bungsunya, Angga (3), saat berjualan. Setiap dibawa ke warung, Angga selalu pilek dan demam.

Selain itu, Fatimah mengaku terpaksa membuka kembali warungnya karena persediaan uang untuk kebutuhan sehari-hari sudah menipis. Dia sadar betul warungnya tidak seramai dulu sebelum ada tumpukan sampah.

Sebelum terjadi krisis sampah di Kota Bandung, Fatimah menghabiskan 15 kilogram beras dan 3,5 kilogram daging sapi setiap hari. Kini yang terjual hanya sepertiganya.

Nasib Fatimah tak jauh berbeda dengan Jasmin (20) yang membuka usaha fotokopi tepat di samping Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tamansari. Sejak sebulan lalu usaha Jasmin lesu. "Siapa juga yang mau ke sini kalau air sampah membanjiri halaman toko. Belum lagi bau, belatung, dan lalat yang tak ada habisnya," kata pemilik Toko Lesty yang biasanya berpenghasilan Rp 700.000 tetapi kini hanya Rp 50.000 per hari itu.

Meski Jasmin dan pemilik toko lainnya rela merogoh uang Rp 300.000 untuk menguruk halaman toko, hal itu belum membuahkan hasil. Pengguna jasa tetap sepi. Bahkan, dua usaha fotokopi lainnya memilih tutup sejak dua minggu lalu.

Yudi Panca Wahyudi (32), warga Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, mengatakan, ia dan warga lainnya tidak dapat berbuat banyak menghadapi tumpukan sampah. Beberapa kali ia mengeluh kepada lurah, tetapi lurah juga tak dapat berbuat apa-apa.

Keluhan serupa juga disampaikan Piah Ropiah (45), tetangga Yudi. Dia khawatir kesehatan warga sekitar TPS terancam. Sebab, saat turun hujan, air sumur di rumah Piah mengeluarkan aroma tak sedap. Ini diduga akibat rembesan air dari TPA Tamansari yang berjarak hanya 12 meter dari rumah Piah.

Atik, penjaga Toko Emas ABC, malah harus istirahat total selama seminggu. Gadis berusia 22 tahun itu merasa pusing, mual, sesak napas, dan diare akibat tumpukan sampah yang persis berada di depan tokonya di Jalan Kiara Condong yang tak terangkut sejak satu setengah bulan lalu.

Pemerintah Kota Bandung kesulitan membuang sampah karena belum mendapatkan lahan TPA baru. Upaya pembuangan sampah ditolak warga. Mereka sering kecewa dan tak percaya lagi kepada pemerintah.

Saat ini diperkirakan ada 307.523,78 meter kubik sampah yang merupakan akumulasi sejak 15 April lalu. Produksi sampah di Kota Bandung mencapai 7.500,58 meter kubik per hari.

Masalah sampah di Kota Bandung telah menjadi masalah serius sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla secara khusus meminta kepada Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan untuk mengambil alih persoalan tersebut. Dalam pertemuan terakhir, Rabu (24/5) malam antara Gubernur dan Muspida Jawa Barat, disepakati sampah akan dibuang ke tiga lokasi dengan pengawalan tentara dan polisi.

Sosiolog dari Universitas Padjadjaran Budi Rajab mengatakan, sampah yang menggunung telah merusak estetika kota dan membuat warga tak nyaman.

Potret Bandung, antara Mode dan Sampah

Friday, June 2nd, 2006

Kompas Sabtu, 20 Mei 2006

Potret Bandung, antara Mode dan Sampah

Lingkungan Hidup

Delapan peragawati berlenggak-lenggok di sekitar tempat pembuangan sementara sampah di Tamansari, Kota Bandung, Jumat (19/5). Mengenakan busana siap pakai (ready to wear), bermasker putih, mereka berjalan bak di atas catwalk. Sebagian dari gadis-gadis itu memakai sepatu yang lebih besar daripada ukuran kakinya sehingga tampak lucu saat menghindari air lindi. Puncak dari peragaan itu, seorang model memeragakan gaun yang dirancang khusus dari bahan koran bekas, bambu, dan kain-kain dari tempat sampah, yang dibentuk menjadi rok panjang menyerupai kerucut terbalik. Lengkap dengan masker antibau, si peragawati mengitari tempat pembuangan sementara (TPS). "Beberapa saya beli khusus di pasar dan beberapa lainnya saya ambil dari sampah," papar Leonardiansyah Allenda atau Leo, sang perancang busana.

Pertunjukan ini tentu bukan fashion show layaknya peragawati di catwalk. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung yang mempraktikkan mata kuliah Eksperimen Kreatif, asuhan perupa Tisna Sanjaya. "Mereka bebas memilih ide dan tema. Publik juga boleh saja menanyakan kepada para mahsiswa maksud pertunjukan ini," papar Tisna. Busana yang dipamerkan merupakan rancangan Rinda Salmun, mahasiswa Jurusan Seni Lukis angkatan 2003, dan Leonardiansyah Allenda, mahasiswa Jurusan Seni Patung angkatan 2003.

Mereka mengadakan peragaan busana itu untuk mengkritik Pemerintah Kota Bandung yang tidak mampu menyelesaikan masalah sampah. Konsep ini dilatarbelakangi citra Kota Bandung sebagai kota mode. Di kota yang berjuluk Parijs van Java ini terdapat ratusan factory otlet (FO), butik, dan distro. Kota Bandung bahkan dijadikan sebagai salah satu barometer perkembangan mode di Indonesia. Akan tetapi, tidak hanya itu citranya, Kota Bandung kini juga memiliki citra sebagai "Kota Sampah". Menurut para mahasiswa, budaya masyarakat membuang sampah sembarangan turut memberi andil banyaknya tumpukan sampah dan TPS di Kota Bandung.

Melihat kondisi ini, Rinda dan Leo terpanggil "membenturkan" Kota Bandung sebagai kota mode sekaligus kota lautan sampah. "Setiap pergi maupun pulang kuliah saya lewat jalan ini. Saya terpanggil merespons fenomena menggunungnya sampah yang kontras dengan Bandung sebagai kota mode," papar Rinda. Rinda berharap pertunjukan ini membuat warga semakin peduli terhadap sampah. "Kami ingin pemerintah segera merespons," kata Rinda. Ia dan Leo tidak menolak kalau, misalnya, pertunjukan ini diadakan di setiap TPS di Kota Bandung. "Asal ada izin dan fasilitasnya, tidak masalah," ujar Rinda. (Mohammad Hilmi Faiq)

Rumah Bersalin untuk Si Miskin

Friday, June 2nd, 2006

Kompas Selasa, 09 Mei 2006

Pelayanan Kesehatan
Rumah Bersalin untuk Si Miskin

Mimin (30) meringis menahan mulas di perutnya yang buncit. Ditemani suaminya, Soleh (32), Mimin terbaring di salah satu ruang nifas Rumah Bersalin Cuma-cuma Dompet Dhuafa Bandung, Senin (8/5). Dokter memperkirakan Mimin akan segera melahirkan karena usia kandungannya telah menginjak 10 bulan. Pihak rumah bersalin memintanya tetap tinggal di sana.

Meski harus menginap untuk menanti kelahiran anak ketiganya, Mimin dan Soleh merasa tenang. Mereka tidak perlu memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk persalinan. "Meskipun istri saya masuk rumah sakit, saya tetap tenang karena semua gratis. Berbeda dengan dulu, saya harus pontang-panting mencari biaya kelahiran anak," ujar Soleh.

Pedagang asongan ini mengisahkan, sebelumnya persalinan kedua anaknya ditangani dukun beranak (paraji). Untuk persalinan itu ia harus mengeluarkan Rp 80.000. Padahal, penghasilannya hanya Rp 25.000 per hari.

Hal serupa dialami pasangan Agus Safari (45) dan Yani Mulyani (42). Biaya yang harus mereka keluarkan untuk proses persalinan anak pertamanya, Rifqi Afriansyah (7), Rp 250.000. Padahal upah Agus sebagai buruh tani hanya Rp 15.000 per hari. Bahkan, sudah dua tahun ini Agus menganggur.

Oleh karena itu, untuk persalinan anaknya ini Agus memilih Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC). "Semoga prosesnya lancar, tidak merepotkan dokternya," ujar Agus yang tinggal di Kelurahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon.

RBC memang diperuntukkan bagi kaum ekonomi lemah (duafa). Lembaga pelayanan medis yang didirikan 11 Oktober 2004 ini tidak memungut biaya sepeser pun dari pasien. Semua dana yang dibutuhkan ditanggung Dompet Dhuafa Bandung.

Dompet Dhuafa Bandung adalah lembaga amil zakat yang berkewajiban menyalurkan dana zakat kepada penerimanya, salah satunya kepada kaum duafa. RBC adalah salah satu gerai Dompet Dhuafa Bandung untuk menyalurkan dana zakat.

Awalnya, Dompet Dhuafa Bandung hanya menjalankan program pemberian biaya bersalin kepada kaum duafa, bekerja sama dengan Rumah Bersalin Al-Islam Awi Bitung. "Biaya untuk proses persalinan para duafa diklaim kepada Dompet Dhuafa Bandung," ujar Kepala Bagian Umum RBC Dian Purnomo.

Akan tetapi, Dompet Dhuafa Bandung menilai biaya klaim yang dikeluarkan cukup besar sehingga terpikir untuk menggunakan dana tersebut sebagai modal pendirian rumah bersalin. Dana operasional RBC sepenuhnya ditanggung para wajib zakat.

Hingga saat ini tercatat 665 pasien yang mendaftar di RBC di Jalan Holis nomor 127 Bandung. Dari jumlah itu, hanya 320 pasien yang layak menjadi anggota. "Menjadi anggota berarti mendapat pelayanan kesehatan sejak sebelum melahirkan sampai anaknya mendapatkan imunisasi total dan ibunya menjalani KB. Rentang waktunya sekitar satu tahun pascamelahirkan," ujar Dian Purnomo.

Pasien yang daftar diwawancara dan disurvei tempat tinggalnya. Syarat utama menjadi anggota RBC adalah berpenghasilan di bawah upah minimun provinsi (UMP) dan memiliki tanggungan minimal tiga orang. (Mohammad Hilmi Faiq)