Musibah Tsunami
Tuesday, July 25th, 2006KOMPAS - Kamis, 20 Jul 2006
Musibah Tsunami
KITA SELALU GAGAL MEMBACA TANDA ALAM
Oleh Mohammad Hilmi Faiq
Agak sulit membayangkan Pantai Pangandaran yang elok tiba-tiba
penuh mayat, reruntuhan rumah, dan sampah. Pantai yang biasanya akrab
dengan keriangan mendadak lenyap setelah digoyang gempa dan disapu
tsunami, Senin (17/7) lalu.
Ratusan warga dengan wajah murung memunguti barang dagangan,
perabot rumah, atau barang-barang lain yang masih tersisa. Sebagian
di antara warga yang malang itu tampak bersandar di dinding retak,
memandang sekelilingnya dengan tatapan kosong. Sebagian lagi hanya
bisa menangis di bawah pohon tak jauh dari pantai.
Sebagian besar warga di Pangandaran yang menjadi kelompok paling
menderita karena amukan tsunami menyimpan ceritanya sendiri.
Karti (45), yang ditemui di tempat pengungsian Masjid Agung
Pangandaran Al-Istiqomah, Rabu kemarin, bercerita dua minggu sebelum
tsunami meluluhlantakkan rumah dan dagangannya, ia merasakan suasana
aneh. Suhu di sekitar rumahnya mendadak terasa dingin sekali sehingga
badannya terasa ngilu.
"Memang saat bulan Juli atau Agustus udara di sini biasa dingin.
Tetapi, yang kemarin itu dinginnya lain, seperti terasa sampai ke
tulang. Saya sampai merasa ngilu dan linu," katanya.
Karena udara yang kurang bersahabat itu, Karti pun mengurangi
kegiatannya. Perempuan paruh baya yang biasa membuka tokonya dari
pukul 08.00 hingga menjelang magrib ini sering menutup tokonya lebih
awal. "Saya takut kalau terus-terusan terkena udara dingin, bisa
sakit," ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Ani (23), tetangga Karti yang tinggal
di Desa Pangandaran. Ani menceritakan, akibat suhu udara yang tidak
biasa, setiap keluar rumah ia selalu memakai baju hangat atau
jaket. "Udaranya seperti udara AC, dingin banget, padahal
Pangandaran ini kan terkenal panas," ujarnya.
Lain lagi cerita Paino (36). Pria yang hobi memancing ini
bercerita bahwa beberapa hari sebelum tsunami warga sekitar Jalan
Jagalautan, lebih kurang 500 meter dari Taman NasionalCagar Alam,
menemukan seekor burung hantu. Burung ini diyakini berasal dari hutan
di Taman Nasional Cagar Alam.
Menurut Paino, sejak kecil tinggal di Pangandaran, baru kali ini
dia melihat burung hantu masuk kampung. "Waktu itu malam hari, saat
saya mendengar bunyi burung hantu. Dekat sekali. Setelah saya keluar,
burung itu ada di depan pintu," kata Paino. Namun, dia tidak peduli
dan kembali tidur.
Keesokan harinya burung itu ditangkap seorang warga dan dirawat.
Sampai di sini Paino menganggap hal tersebut bukan kejadian aneh atau
berhubungan dengan hal-hal mistis. Pria yang acap kali menghabiskan
waktu di cagar alam itu menduga burung hantu tersebut mungkin
meninggalkan hutan karena sedang mencari makan.
Cerita Paino berlanjut. Beberapa jam menjelang datangnya tsunami,
tepatnya Senin pukul 14.30, saat hendak memancing di Cangkrungan, dia
menyaksikan kalong (kelelawar besar) berhamburan di tengah hutan
menuju ke arah utara. Bagi Paino, kejadian ini sungguh aneh karena
kalong biasanya keluar dari sarang menunggu gelap datang.
"Saya biasa ke hutan dan tahu persis kapan kalong keluar.
Sebelum petang, jarang mereka keluar dari sarangnya untuk mencari
mangsa," ujar Paino.
Meskipun demikian, Paino belum sadar betul serangkaian pertanda
yang dia temui. Baru beberapa jam kemudian dia menemukan jawabannya.
Ketika asyik menunggui kail, dia dikejutkan suara gemuruh yang
datang dari tengah laut. "Saya menyaksikan sendiri ombak besar itu
menghantam bagan (menyerupai gubuk, tempat nelayan memasang jaring di
laut) dan mendekati pantai. Beberapa orang yang sedang menjala ikan
juga lari sambil berteriak. Saya langsung lari ke atas," tutur Paino.
Dari rangkaian kejadian ini, Paino lalu menduga-duga pesan yang
disampaikan melalui pertanda yang dia temui. "Saya yakin, saat
burung hantu itu lari ke kampung dan kalong buyar, itu karena mereka
lebih dulu dapat merasakan akan adanya bencana atau amukan alam,"
ujarnya.
Sama seperti Paino, warga, aparat pemerintah, dan para pakar
seolah gagal membaca gejala alam yang biasa muncul sebelum tsunami.
Sebelum tsunami menerjang Aceh dua tahun lalu, gejala serupa juga
ditemui masyarakat di sana.
Gempa berkekuatan 6,8 SR yang diikuti tsunami setinggi lima meter
telah lewat. Tsunami ini menghantam sisi timur dan barat Pantai
Pangandaran. Akibatnya, bangunan di sepanjang garis pantai porak
poranda.
Di sepanjang Pantai Pangandaran jalan masih tertutup pasir yang
terbawa gelombang. Reruntuhan bangunan dan sisa-sisa amukan ombak,
seperti perahu yang terbelah, rongsokan mobil, atau kayu dan batu
berserakan di sepanjang jalan.
Di Jalan E Nurbaen, tak jauh dari pertigaan Pasangrahan menuju
Taman Nasional Cagar Alam, lalu lintas terputus akibat tumpukan bekas
gubuk dan perahu yang memenuhi ruas jalan.
Sarana pengamanan Pantai Pangandaran, seperti rubber boat, menara
pengawas, mobil Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista), dan sarana
komunikasi juga tak luput dari amukan tsunami. Penerangan jalan umum
dan mesin anjungan tunai mandiri juga mati total.
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran hancur. Tinggal tiang-
tiang beton dan papan nama. Sementara itu, ratusan kios dan rumah
makan bernasib serupa. Meski sebagian bangunan masih tampak berdiri,
sudah tak jelas lagi mana pintu mana jendela, serba berantakan.
Menurut catatan Satuan Koordinasi Pelaksana Bencana Kabupaten
Ciamis, jumlah hotel di Pantai Pangandaran yang rusak mencapai 63,
sedangkan rumah makan yang rusak sedikitnya berjumlah 34 unit, dan
perahu 162 buah. Ini belum termasuk ratusan rumah warga yang rusak
berat dan ringan.
Selain merusak secara fisik, tsunami juga menimbulkan luka jiwa.
Sebagian warga mulai paranoid terhadap gempa. Mereka mudah panik
ketika mendengar isu gempa susulan. Seperti yang terjadi kemarin
siang, warga berhamburan lari menjauhi laut karena mendengar isu air
kembali pasang. "Saya lari karena ada yang berteriak tsunami," kata
Andreas (23).
Bahkan ada warga yang menjadi takut terhadap gelombang laut dan
bertekad pindah rumah "Biar harta saya habis. Saya mau pulang ke
orangtua saja," kata Imas (18), yang berduka karena ibunya menjadi
salah seorang korban tewas dalam malapetaka tersebut.