Puasa

Fs1_2 Para PNS menunggu waktu duhur pada jam kerja

KOMPAS Jawa Barat Hari: Jumat Tanggal: 14-09-2007 halaman: A Penulis: Faiq, Mohammad Hilmi

Kinerja Birokrasi

PUASA, TANTANGAN ETOS KERJA

Jam dinding di dalam Masjid Al-Ukhuwah Kota Bandung menunjukkan
pukul 11.30, Kamis (13/9). Suasana hening. Hanya ada beberapa jemaah
yang mendirikan shalat duha sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba.
Sebagian ada yang khusyuk membaca Al Quran di dekat salah satu tiang masjid.

    Tak jauh dari mereka duduk, dua orang berseragam pegawai negeri
sipil (PNS) tampak duduk sambil terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian
datang seorang lagi dengan pakaian serupa. Dia langsung merebahkan
diri di samping teman-temannya. Selang sekitar 10 menit, terdengar
dengkuran halus. Dia tidur.
    Di ujung ruang masjid tampak juga seorang PNS terlelap. Dia sama
sekali tidak sadar bahwa di sekelilingnya sudah mulai ramai orang yang
menunaikan shalat duha. "Dari jam 10.15 tadi dia sudah tidur di sana,
mungkin lemas karena puasa," kata seorang penjaga masjid.
    Setiap awal bulan puasa, pemandangan tersebut kerap terlihat. Para
PNS "mencuri" jam kerja untuk tidur dengan alasan sedang puasa. Mereka
seolah lupa bahwa ada masyarakat yang harus mereka layani.
    Muhammad Riyan dari Dewan Pimpinan Wilayah Hizbut Tahrir
Indonesia, kemarin, mengatakan, banyak orang belum dapat memahami amal
ibadah puasa secara menyeluruh. Mereka masih menilai kewajiban puasa
sebagai beban.

    Padahal, lanjutnya, dalam Al Quran disebutkan bahwa salah satu
tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa berarti
takut kepada Allah atau meninggalkan segala larangan-Nya dan
mengerjakan perintah-Nya. "Takwa itu berarti dekat dengan Allah.
Implementasinya, dia akan bekerja dengan sungguh-sungguh," ujarnya.
    Riyan menilai bahwa masi h banyak anggota masyarakat yang melihat
puasa di bulan Ramadhan sebagai sesuatu yang asing. Padahal, Allah
menganjurkan agar sebelum memasuki bulan Ramadhan, yakni bulan Rajab
dan Syakban, umat manusia berpuasa. Ini dapat diartikan sebagai masa
persiapan memasuki Ramadhan.
    "Kalau tak ada persiapan, maka terjadi loncatan. Ibaratnya orang
olahraga tanpa pemanasan akan shock atau cedera," kata Riyan.

Seharusnya meningkat
    Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Dadang Kahmad
sependapat dengan Riyan. Baginya, kinerja selama Ramadhan tidak akan
terkendala kalau para PNS sudah terbiasa dengan puasa sunah. "Karena
banyak yang kurang biasa berpuasa, saat masuk bulan Ramadhan itu
menjadi mengagetkan, jadi lesu dan lemas. Butuh adaptasi," ujarnya.
    Dadang berharap para PNS ini hanya butuh waktu sehari untuk
beradaptasi. Selanjutnya mereka tetap dapat melayani masyarakat secara
maksimal meskipun sambil berpuasa. Kalau selama berpuasa mereka tetap
lemas, ini kontraproduktif dengan tujuan puasa itu sendiri.
    Menurut Dadang, tujuan puasa antara lain adalah meningkatkan
keimanan, etos kerja, dan prestasi. Artinya, dengan berpuasa kinerja
seseorang semestinya meningkat.
    Segala bentuk ibadah, lanjutnya, telah dirancang Allah agar tidak
mengganggu aktivitas umat-Nya sehari-hari. Seperti puasa dan shalat,
di negara-negara yang berbudaya tinggi itu semua tidak mengganggu kinerja.
    "Warga Indonesia yang bekerja di negeri orang dengan kultur
kerjanya tinggi, mereka tidak ada masalah. Di Arab sendiri, shalat
cukup waktu 10 menit dan kemudian warga kembali bekerja secara
serius," kata Dadang.
    Ia menjelaskan, fenomena menurunnya kinerja PNS pada awal Ramadhan
adalah masalah budaya. Warga di negeri ini selalu punya alasan untuk
bisa bekerja dengan lalai dan malas. Jangankan saat bulan puasa, di
bulan-bulan yang lain juga banyak pegawai yang memiliki banyak waktu
luang daripada bekerja secara serius.
    Dengan adanya puasa, seolah ada kambing hitam yang layak
dipersalahkan atas menurunnya kinerja pegawai.
    Dadang mengatakan, kalau puasa dijadikan alasan atas menurunnya
kinerja pegawai dan mengganggu pelayanan publik, sudah saatnya ada
pencerahan yang lebih jauh akan pentingnya puasa. Perlu ditanamkan
kesadaran bahwa melayani kepentingan orang lain itu merupakan bagian
dari ibadah. Ini harus diberikan secara simultan dan integratif.
    Sementara itu, Asisten Daerah II Bagian Ekonomi Pembangunan dan
Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung Taufik Rachman dalam ceramah tarawih
perdana di Masjid Al-Ukhuwah menyatakan, puasa harus dijadikan momen
penting peningkatan kualitas pribadi. "Puasa jangan dijadikan beban
karena puasa itu menyehatkan, sehat jasmani dan rohani," ujarnya.

(Mohammad Hilmi Faiq)

Leave a Reply