Archive for October, 2007

Monday, October 22nd, 2007

Kompas, 22 Oktober 2007

1

Dua pekerja mulai membongkar salah satu bagian lantai lima  Vue Palace Hotel, Bandung, Sabtu (20/10). Wali Kota Bandung dada Rosada memberi batas waktu hingga 20 Januari untuk membonngkar lanti lima dan enam Vue Palace Hotel.

Tata Kota

Pembongkaran Vue Palace Hotel Dihentikan 

Bandung, Kompas - Pembongkaran lantai lima dan enam Vue Palace Hotel yang baru berjalan sehari dihentikan pada Minggu (21/10). Alasannya, para pekerja butuh libur untuk istirahat. Lagi pula masih dalam suasana Lebaran.

"Besok (Senin), semua proses pembongkaran berjalan lagi sesuai rencana," kata Engineer Vue Palace Hotel Jeffrry Ridwan di Bandung, Minggu. Hingga kemarin, pembongkaran dua latai di Vue Palace Hotel baru pada tahap pencopotan jendela dan pembobolan beberapa bagian dinding kamar. Perabotan kamar sudah dipindahkan ke bawah.

Manajemen Vue Palace Hotel mulai membongkar lantai lima dan enam hotel di Jalan Otto Iskandardinata Nomor 3, Kota Bandung, ini sejak Sabtu. Ini sesuai kesepakatan Pemerintah Kota Bandung dan manajemen Vue Palace Hotel saat masih bernama Hotel Planet. Pembongkaran ini berpijak pada Surat Keputusan (SK) Wali Kota Bandung tahun 2006.

SK itu mencantumkan waktu pembongkaran dimulai 20 Oktober 2007 dan berakhir 20 Januari 2008. Pembongkaran dilakukan karena lantai lima dan enam menyalahi izin Wali Kota Bandung. Tak bisa tiga bulan Direktur Utama Vue Palace Hotel Aryadi menjelaskan, sulit untuk menyelesaikan pembongkaran dalam tempo tiga bulan sebagaimana diminta Pemkot Bandung.

Pembongkaran itu, menurut dia, telah dilakukan sejak Januari 2006, terutama kanopi, daun pintu, dan jendela. Wali Kota Bandung Dada Rosada mengatakan, pemkot tetap konsisten untuk menciptakan tata ruang atau lingkungan yang tertib.

Izin operasional hotel akan dicabut jika manajemen Vue Palace Hotel tidak memulai pembongkaran pada 20 Oktober 2007 atau tak menyelesaikan pembongkaran pada 20 Januari 2008. Izin yang terancam dicabut antara lain izin peruntukan penggunaan tanah, IMB, izin HO, dan surat izin usaha kepariwisataan. (MHF)

Saturday, October 6th, 2007

Hidup_dari_yang_mati

Asep Rohendi (46) membersihkan sebuah makam dengan membabat rumput yang tumbuh di atasnya di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, Rabu (3/10). Para penggali dan penjaga makam bekerja keras untuk  mendapatkan limpahan rezeki saat Lebaran nanti.

Jelang Lebaran

Kehidupan Mereka Bergantung pada yang Mati 

Udara di Kota Bandung amat panas pada Rabu (3/10). Namun, semua itu tidak menyurutkan niat Yusuf (53) untuk membersihkan puluhan makam di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, Bandung.

Sejak matahari masih sepenggal, sampai persis di atas ubun-ubun, Yusuf membersihkan rumput liar yang mengepung makam.

Hari itu, ia sudah membersihkan tidak kurang dari 20 makam. "Maunya bisa 25 makam sampai sore nanti, biar besok-besok tidak banyak beban," ujarnya.

Yusuf adalah satu dari puluhan penjaga makam, sekaligus penggali kubur di TPU Sirnaraga. Bapak tujuh anak ini menggantungkan hidup dari menjaga makam dan menggali kubur.

Meskipun tidak selamanya pekerjaan itu menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup, Yusuf enggan mencari pekerjaan lain. Baginya, menggali kubur dan menjaga makam bukan sekadar mencari uang, tetapi juga mendapatkan pahala.

Sudah puluhan tahun Yusuf menekuni pekerjaan ini. Ia dipercaya menjaga sekitar 100 makam. Para ahli waris jenazah yang dimakamkan di situ percaya pada ketelatenan, kesetiaan, dan kerapian Yusuf menjaga makam.

Para ahli waris memang jarang datang, paling sebulan sekali. "Kalau ada yang datang, suka ngasih duit. Kadang Rp 50.000 kadang Rp 10.000," kata Yusuf.

Namun, menjelang Lebaran Yusuf meyakini akan ada puluhan bahkan ratusan ahli waris yang akan mengunjungi makam anggota keluarga. Untuk itulah, Yusuf bekerja keras membersihkan setiap makam yang menjadi tanggung jawabnya.

Menjelang dan saat Lebaran tahun lalu, Yusuf mengantongi Rp 1 juta. Uang itu didapat dari pemberian para peziarah. "Kalau sudah terima uang, rasanya semua capek jadi hilang. Makanya, kalau sedang membersihkan makam gini, enaknya mbayangin duit, biar enggak capek," ujarnya.

Tergantung keluarga

Hal senada dikatakan Yuyu (30), rekan Yusuf. Lebaran merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu para penggali kubur dan penjaga makam.

Yuyu menjelaskan, penghasilannya menggali kubur tidak dapat dipastikan, tergantung kondisi ekonomi keluarga jenazah yang dimakamkan. Kalau kebetulan anggota keluarganya kaya dan dermawan, Yuyu dan rekan-rekannya bisa mendapat ratusan ribu rupiah.

"Pernah ada satu keluarga yang memberi upah sampai 1,5 juta. Katanya kasihan melihat tukang gali yang bercucuran keeringat. Kami tidak bisa melarang. Yang penting tidak ada paksaan," tutur Kepala Subdinas Pemakamam Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung Agus Bustomi Susanto.

Kadang para penggali kubur yang terdiri dari lima sampai delapan orang itu hanya mendapat Rp 50.000.

Menjadi penggali kubur, kata Yogi (29), tidak bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan tetap. Kadang mereka menganggur selama berbulan-bulan. "Baru ada pekerjaan sehari atau dua hari kalau ada yang meninggal. Setelah itu, nganggur lagi," kata Yogi yang tengah menata sebuah makam.

Begitulah para penggali dan penjaga kubur. Kehidupannya seolah bergantung pada yang mati. (Mohammad Hilmi Faiq) 

Saturday, October 6th, 2007

Fs_7 Distamkam Siapkan 202 Liang

Jangan Ada yang Ditolak karena Masalah Biaya

Bandung, Kompas - Untuk mengantisipasi keadaan, Dinas Pertamanan dan Pemakaman atau Distamkam Kota Bandung menyediakan 202 liang kubur menjelang Lebaran kali ini. Penggalian liang kubur ditargetkan selesai tiga hari sebelum Lebaran. Saat ini sudah tergali 50 persen.

Demikian dikatakan Kepala Subdinas Pemakaman Distamkam Kota Bandung Agus Bustomi Susanto saat meninjau penggalian liang kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Rabu (3/10). "Jumlah liang kubur yang kami sediakan bisa kurang, bisa juga lebih. Biasanya selalu kurang," ujarnya.

Bustomi menjelaskan, penggalian liang kubur telah dimulai sejak hari kesepuluh bulan Ramadhan. Liang kubur tersebut tersebar di 13 TPU di Kota Bandung. TPU yang paling banyak menyiapkan liang kubur adalah TPU Sirnaraga, yakni 40 liang. Tahun lalu, kata Bustomi, pihaknya menyediakan 200 liang kubur.

Namun, realisasinya mencapai 258 liang terhitung sampai tiga hari setelah Lebaran. Tahun 2005 disediakan 150 liang kubur, sementara jumlah yang dimakamkan 154 jenazah. Tahun 2004 disediakan 130 liang, seangkan yang meninggal 140 orang. Menurut Bustomi, selama Lebaran, jumlah masyarakat yang dilayani meningkat.

Selain warga yang meninggal, petugas TPU juga melayani peziarah. Agar jenazah tidak terbengkalai, Distamkam menyediakan liang kubur sebelum ada warga yang meninggal. "Kami sudah siapkan tenaga untuk mengantisipasi jika liangnya kurang," ujarnya.

Untuk menggali satu liang kubur, kata Kepala TPU Sirnaraga Mustofa, dibutuhkan waktu satu sampai dua jam, bergantung pada jenis tanah dan jumlah orang yang menggali. Satu kelompok penggali terdiri dari lima sampai delapan orang. "Di TPU Sirnaraga ada 24 tukang gali," tuturnya. Cukup Rp 25.000 Mustofa menjelaskan, warga yang membutuhkan lahan liang kubur cukup membayar Rp 25.000 per meter persegi. Sementara untuk biaya penggalian tidak ada tarif tertentu. "Seikhlasnya saja, bahkan kadang kami gratiskan kalau memang keluarga yang ditinggal tidak memiliki biaya. Kami tidak ingin ada jenazah yang ditolak hanya karena tidak ada biaya," katanya.

Menurut Bustomi, Pemerintah Kota (Pemkot) Ba ndung masih memiliki lahan untuk liang kubur seluas 28 hektar. Lahan tersebut belum termasuk lahan dari perumahan seluas 17 hektar dan lahan yang akan dibeli melalui APBD seluas 4,8 hektar. Satu hektar lahan cukup untuk 2.500-3.000 makam.

Bustomi mengatakan, angka kematian di Kota Bandung mencapai 6.250 jiwa per tahun atau sekitar 19 jiwa per hari. Saat ini Subdinas Pemakaman Pemkot Bandung mengelola 13 TPU, yang luas keseluruhannya mencapai 140,5 hektar.

Sementara jumlah makam di Kota Bandung 168.341 buah, terdiri dari 126,746 makam aktif dan 41.595 makam pasif atau tidak lagi diurus oleh ahli warisnya.

Tahun 2004, dari TPU diperoleh pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 745,6 juta, sedangkan tahun 2005 menjadi Rp 756,8 juta. PAD dari makam tahun 2006 mencapai Rp 862,2 juta dari target Rp 818,6 juta. Tahun ini ditargetkan pendapatan sebesar Rp 889,45 juta, tetapi hingga awal Oktober baru terkumpul Rp 679,53 juta. (MHF)