July 22nd, 2006 by emhafaiq
Kompas, 20 Juli 2006
Musibah
Pangandaran, Keindahan yang Terkoyak
Mohammad Hilmi Faiq
Agak sulit membayangkan Pantai Pengandaran Kabupaten Ciamis yang elok, tiba-tiba penuh mayat, reruntuhan rumah dan sampah. Pantai yang biasanya akrab dengan keriangan manusia mendadak lenyap disapu gempa dan tsunami Senin lalu.
Ratusan warga dengan wajah murung memunguti barang dagangan, perabot rumah atau barang-barang lain yang mungkin masih tersisa.
Gempa berskala 6,8 SR yang kemudian diikuti tsunami setinggi lima meter, telah menciderai keindahan pantai pangandaran dan menghancurkan mata pencaharian warga pangandaran. Tsunami yang menewaskan sedikitnya 420 warga ini menghantam sisi timur dan barat pantai Pangandaran. Akibatnya, bangunan di sepanjang garis pantai porak poranda.
Tepat di garis pantai suasana lengang, Rabu (19/7). Sejauh mata memandang, yang tampak hanya deru ombak. Tak ada lagi hangar-bingar bule setangah telanjang atau anak-anak berlarian menikmati hiburan. Longsoran pasir laut yang terseret gelombang balik tsunami terdapat di hampir seluruh garis pantai. Perahu-perahu nelayan tak tahu kemana perginya, sepi.
Ketika ombak bergulung, pecah dan meninggalkan buih disinari cerahnya mentari, sisa keindahan pantai pangandaran masih terasa. Namun, Pangandaran telah cidera, tak secantik kemarin lusa.
Di sepanjang pantai pangandaran, jalan masih tertutup pasir yang terbawa gelombang. Reruntuhan bangunan dan sisa-sisa amukan ombak, seperti perahu yang terbelah, ronsokan mobil, atau kayu dan batu berserakan di sepanjang jalan. Di jalan E Nurbaen, tak jauh dari pertigaan Pasangrahan menuju Taman Nasional Cagar Alam, jalan nyaris terputus karena terhalang tumpukan bekas gubuk dan perahu yang memenuhi ruas jalan.
Untuk menyusuri jalan ini, aparat terpaksa membuka jalan alternatif di sisi pagar jalan, itu pun hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Saat ini satkorlk tengah sibuk membersihkan jalan.Sarana pengamanan pantai pangandaran, sepertri rubber boat, menara pengawas, Mobil Badan Penyelamat Wisata Tirta (balavista), dan sarana komunikasi juga tak luput dari amukan tsunami. Perenangan jalan umum dan Anjungan tunai mandiri juga mati total. Kabel-kabel listrik
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran hancur. Tinggal tiang-tiang beton dan papan nama. Sementara ratusan kios dan rumah makan juga bernasib serupa. Meski sebagian bangunan masih tampak berdiri, namun tak jelas lagi mana pintu mana jendela, berantakan.
Menurut Cacatan Satkorlak Bencana Kabupaten Ciamis, jumlah hotel di pantai Pangandaran yang rusak mencapai 63. Sementara rumah makan makan yang rusak sedikitnya 34 unit, dan perahu 162 buah. Ini belum termasuk ratusan rumah warga yang rusak berat dan ringan.
Tsunami juga telah menghancurkan fasilitas umum dan sarana komunikasi di sepanjang pantai pangandaran. Saluran air dan listrik juga mati, sehingga pada malam hari suasan pantai pangandarean menjadi gelap gulita. Praktis, sejak tsunami terjadi, sebagian besar hotel tidak beroperasi. Selain karena rusak dan tidak adanya aliran listrik, beberapa pengelola hotel menutup usahanya sementara karena masih shock. Sementara beberapa lainnya menunggu perbaikkan.
Meski demikian, beberapa penginapan dan hotel tetap menerima tamu meskipun tanpa penerangan dan air. _Maunya sih tutup, tapi banyak yang maksa. Ya sudah saya persilakan saja,_ ujar seorang pemilik penginapan di Jalan Kidang Penanjung.
Sebagian besar para tamu yang _memaksa_ ini adalah para juru warta. Mereka kesulitan mencari penginapan. Bahkan, beberapa di antara mereka terpaksa tidur di mobil atau fasilitas umum yang tak tersentuh tsunami, musholla misalnya. Para wartawan yang datang dari luar kota bahkan luar negeri ini tidak enggan menimba air dari sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, ada juga pengelola hotel yang rela menyewa jenset untuk memenuhi kebutuhan tamunya. _Saya bilang ke penjaga hotel, tanpa lampu pun tak pa-apa asal saya bias menginap. Tapi tahu-tahu mereka sampai rela menyewa jenset,_ kata seorang wartawan yang menginap di ebuah hotel dengan tarif Rp 400.000 per malam. Sementara para tamu wartawan lain yang belum beruntung hanya tidur bertemankan nyala lilin.
Walaupun sebgaian besar hotel rusak, namun mereka rata-rata menyimpan optimisme untuk bangkit. _Saya sendiri tidak begitu shock dengan kejadian ini dan kemungkinan besar akan tetap melnjutkan usaha ini. Asalkan, pemerintah mau membantu,_ ujar Tjokro Vonco (54) pemilik Hotel Melia Beach, saat tengah membersihan hotelnya dari sisa-sisa tsunami. Akibat amukan tsunami yang merusak hotelnya, Tjokro mengaku merugi hingga Rp 1 miliar. Tinggal kemauan Pemrintah setempat untuk membangkitkan Pangandaran. _
Kita belum tahu tindakan persisnya untuk memgembalikan pantai pangandaran, tapi sudh terpikir tentang itu. Saat ini kami masih terfokus kepada korban,_ kata Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, H Subur. Yang patut disyukuri, bencana ini tidak sampai menghancurkan infrastruktur penting seperti jalan raya.
Meski bangunan disepanjang pantai rusak berat, namun jalan masuk ke pantai nyaris tak _terluka_ sehingga TIM SAR gabungan lebih mudah mengevakuasi korban. Masih berfungsinya jalan ini juga dimanfaatkan beberapa _wisatawan bencana_, seperti ronbongan PKK, maupun DPRD dari daerah tertentu. Bahkan, hampir dipastikan setiap petugas melaksanakan evakusi selalu ditemani wisataman bencana yang sibuk mengabadikan gambar dengan kamera telpon genggam.
