July 22nd, 2006 by emhafaiq

Kompas, 20 Juli 2006

Musibah
Pangandaran, Keindahan yang Terkoyak

Mohammad Hilmi Faiq

Agak sulit membayangkan Pantai Pengandaran Kabupaten Ciamis yang elok, tiba-tiba penuh mayat, reruntuhan rumah dan sampah. Pantai yang biasanya akrab dengan keriangan manusia mendadak lenyap disapu gempa dan tsunami Senin lalu.

Ratusan warga dengan wajah murung memunguti barang dagangan, perabot rumah atau barang-barang lain yang mungkin masih tersisa.

Gempa berskala 6,8 SR yang kemudian diikuti tsunami setinggi lima meter, telah menciderai keindahan pantai pangandaran dan menghancurkan mata pencaharian warga pangandaran. Tsunami yang menewaskan sedikitnya 420 warga ini menghantam sisi timur dan barat pantai Pangandaran. Akibatnya, bangunan di sepanjang garis pantai porak poranda.

Tepat di garis pantai suasana lengang, Rabu (19/7). Sejauh mata memandang, yang tampak hanya deru ombak. Tak ada lagi hangar-bingar bule setangah telanjang atau anak-anak berlarian menikmati hiburan. Longsoran pasir laut yang terseret gelombang balik tsunami terdapat di hampir seluruh garis pantai. Perahu-perahu nelayan tak tahu kemana perginya, sepi.

Ketika ombak bergulung, pecah dan meninggalkan buih disinari cerahnya mentari, sisa keindahan pantai pangandaran masih terasa. Namun, Pangandaran telah cidera, tak secantik kemarin lusa.

Di sepanjang pantai pangandaran, jalan masih tertutup pasir yang terbawa gelombang. Reruntuhan bangunan dan sisa-sisa amukan ombak, seperti perahu yang terbelah, ronsokan mobil, atau kayu dan batu berserakan di sepanjang jalan. Di jalan E Nurbaen, tak jauh dari pertigaan Pasangrahan menuju Taman Nasional Cagar Alam, jalan nyaris terputus karena terhalang tumpukan bekas gubuk dan perahu yang memenuhi ruas jalan.

Untuk menyusuri jalan ini, aparat terpaksa membuka jalan alternatif di sisi pagar jalan, itu pun hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Saat ini satkorlk tengah sibuk membersihkan jalan.Sarana pengamanan pantai pangandaran, sepertri rubber boat, menara pengawas, Mobil Badan Penyelamat Wisata Tirta (balavista), dan sarana komunikasi juga tak luput dari amukan tsunami. Perenangan jalan umum dan Anjungan tunai mandiri juga mati total. Kabel-kabel listrik

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran hancur. Tinggal tiang-tiang beton dan papan nama. Sementara ratusan kios dan rumah makan juga bernasib serupa. Meski sebagian bangunan masih tampak berdiri, namun tak jelas lagi mana pintu mana jendela, berantakan.

Menurut Cacatan Satkorlak Bencana Kabupaten Ciamis, jumlah hotel di pantai Pangandaran yang rusak mencapai 63. Sementara rumah makan makan yang rusak sedikitnya 34 unit, dan perahu 162 buah. Ini belum termasuk ratusan rumah warga yang rusak berat dan ringan.

Tsunami juga telah menghancurkan fasilitas umum dan sarana komunikasi di sepanjang pantai pangandaran. Saluran air dan listrik juga mati, sehingga pada malam hari suasan pantai pangandarean menjadi gelap gulita. Praktis, sejak tsunami terjadi, sebagian besar hotel tidak beroperasi. Selain karena rusak dan tidak adanya aliran listrik, beberapa pengelola hotel menutup usahanya sementara karena masih shock. Sementara beberapa lainnya menunggu perbaikkan.

Meski demikian, beberapa penginapan dan hotel tetap menerima tamu meskipun tanpa penerangan dan air. _Maunya sih tutup, tapi banyak yang maksa. Ya sudah saya persilakan saja,_ ujar seorang pemilik penginapan di Jalan Kidang Penanjung.

Sebagian besar para tamu yang _memaksa_ ini adalah para juru warta. Mereka kesulitan mencari penginapan. Bahkan, beberapa di antara mereka terpaksa tidur di mobil atau fasilitas umum yang tak tersentuh tsunami, musholla misalnya. Para wartawan yang datang dari luar kota bahkan luar negeri ini tidak enggan menimba air dari sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, ada juga pengelola hotel yang rela menyewa jenset untuk memenuhi kebutuhan tamunya. _Saya bilang ke penjaga hotel, tanpa lampu pun tak pa-apa asal saya bias menginap. Tapi tahu-tahu mereka sampai rela menyewa jenset,_ kata seorang wartawan yang menginap di ebuah hotel dengan tarif Rp 400.000 per malam. Sementara para tamu wartawan lain yang belum beruntung hanya tidur bertemankan nyala lilin.

Walaupun sebgaian besar hotel rusak, namun mereka rata-rata menyimpan optimisme untuk bangkit. _Saya sendiri tidak begitu shock dengan kejadian ini dan kemungkinan besar akan tetap melnjutkan usaha ini. Asalkan, pemerintah mau membantu,_ ujar Tjokro Vonco (54) pemilik Hotel Melia Beach, saat tengah membersihan hotelnya dari sisa-sisa tsunami. Akibat amukan tsunami yang merusak hotelnya, Tjokro mengaku merugi hingga Rp 1 miliar. Tinggal kemauan Pemrintah setempat untuk membangkitkan Pangandaran. _

Kita belum tahu tindakan persisnya untuk memgembalikan pantai pangandaran, tapi sudh terpikir tentang itu. Saat ini kami masih terfokus kepada korban,_ kata Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, H Subur. Yang patut disyukuri, bencana ini tidak sampai menghancurkan infrastruktur penting seperti jalan raya.

Meski bangunan disepanjang pantai rusak berat, namun jalan masuk ke pantai nyaris tak _terluka_ sehingga TIM SAR gabungan lebih mudah mengevakuasi korban. Masih berfungsinya jalan ini juga dimanfaatkan beberapa _wisatawan bencana_, seperti ronbongan PKK, maupun DPRD dari daerah tertentu. Bahkan, hampir dipastikan setiap petugas melaksanakan evakusi selalu ditemani wisataman bencana yang sibuk mengabadikan gambar dengan kamera telpon genggam.

Warung Bangkrut karena Sampah

June 2nd, 2006 by emhafaiq

Kompas Jumat, 26 Mei 2006

Dampak Buruk
Warung Bangkrut karena Sampah

Mohammad Hilmi Faiq

Fatimah menghabiskan makan siang di warungnya dengan lahap. Ia seolah tak peduli dengan tumpukan sampah yang berada sekitar 2 meter di depan warungnya. Padahal, bau sampah sudah tercium dari radius 15 meter. "Kalau bau sampah mah saya sudah terbiasa, tetapi pembeli tidak datang kalau bau begini," ujarnya seusai menghabiskan makan siang, Kamis (25/5).

Sudah sejak lama warung Fatimah di Pasar Cihaurgeulis ditinggalkan pelanggan akibat tumpukan sampah yang tak terangkut menyusul ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cicabe, 14 April lalu. Akhirnya, ibu dua anak ini memutuskan menutup warungnya sejak sebulan lalu dan baru dua hari ini buka kembali. Bukan hanya sepinya pembeli yang mendorong Fatimah menutup warungnya, tetapi warga Kelurahan Sukapada, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, juga sering mengeluh mual dan pusing.

"Dulu baunya luar biasa. Belum lagi lalat dan belatung. Sekarang mah sudah berkurang karena sebagian sampah sudah diangkut," kata Fatimah.

Meski demikian, bau sampah masih cukup mengganggu. Bahkan, Fatimah belum berani membawa serta anak bungsunya, Angga (3), saat berjualan. Setiap dibawa ke warung, Angga selalu pilek dan demam.

Selain itu, Fatimah mengaku terpaksa membuka kembali warungnya karena persediaan uang untuk kebutuhan sehari-hari sudah menipis. Dia sadar betul warungnya tidak seramai dulu sebelum ada tumpukan sampah.

Sebelum terjadi krisis sampah di Kota Bandung, Fatimah menghabiskan 15 kilogram beras dan 3,5 kilogram daging sapi setiap hari. Kini yang terjual hanya sepertiganya.

Nasib Fatimah tak jauh berbeda dengan Jasmin (20) yang membuka usaha fotokopi tepat di samping Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tamansari. Sejak sebulan lalu usaha Jasmin lesu. "Siapa juga yang mau ke sini kalau air sampah membanjiri halaman toko. Belum lagi bau, belatung, dan lalat yang tak ada habisnya," kata pemilik Toko Lesty yang biasanya berpenghasilan Rp 700.000 tetapi kini hanya Rp 50.000 per hari itu.

Meski Jasmin dan pemilik toko lainnya rela merogoh uang Rp 300.000 untuk menguruk halaman toko, hal itu belum membuahkan hasil. Pengguna jasa tetap sepi. Bahkan, dua usaha fotokopi lainnya memilih tutup sejak dua minggu lalu.

Yudi Panca Wahyudi (32), warga Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, mengatakan, ia dan warga lainnya tidak dapat berbuat banyak menghadapi tumpukan sampah. Beberapa kali ia mengeluh kepada lurah, tetapi lurah juga tak dapat berbuat apa-apa.

Keluhan serupa juga disampaikan Piah Ropiah (45), tetangga Yudi. Dia khawatir kesehatan warga sekitar TPS terancam. Sebab, saat turun hujan, air sumur di rumah Piah mengeluarkan aroma tak sedap. Ini diduga akibat rembesan air dari TPA Tamansari yang berjarak hanya 12 meter dari rumah Piah.

Atik, penjaga Toko Emas ABC, malah harus istirahat total selama seminggu. Gadis berusia 22 tahun itu merasa pusing, mual, sesak napas, dan diare akibat tumpukan sampah yang persis berada di depan tokonya di Jalan Kiara Condong yang tak terangkut sejak satu setengah bulan lalu.

Pemerintah Kota Bandung kesulitan membuang sampah karena belum mendapatkan lahan TPA baru. Upaya pembuangan sampah ditolak warga. Mereka sering kecewa dan tak percaya lagi kepada pemerintah.

Saat ini diperkirakan ada 307.523,78 meter kubik sampah yang merupakan akumulasi sejak 15 April lalu. Produksi sampah di Kota Bandung mencapai 7.500,58 meter kubik per hari.

Masalah sampah di Kota Bandung telah menjadi masalah serius sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla secara khusus meminta kepada Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan untuk mengambil alih persoalan tersebut. Dalam pertemuan terakhir, Rabu (24/5) malam antara Gubernur dan Muspida Jawa Barat, disepakati sampah akan dibuang ke tiga lokasi dengan pengawalan tentara dan polisi.

Sosiolog dari Universitas Padjadjaran Budi Rajab mengatakan, sampah yang menggunung telah merusak estetika kota dan membuat warga tak nyaman.

Potret Bandung, antara Mode dan Sampah

June 2nd, 2006 by emhafaiq

Kompas Sabtu, 20 Mei 2006

Potret Bandung, antara Mode dan Sampah

Lingkungan Hidup

Delapan peragawati berlenggak-lenggok di sekitar tempat pembuangan sementara sampah di Tamansari, Kota Bandung, Jumat (19/5). Mengenakan busana siap pakai (ready to wear), bermasker putih, mereka berjalan bak di atas catwalk. Sebagian dari gadis-gadis itu memakai sepatu yang lebih besar daripada ukuran kakinya sehingga tampak lucu saat menghindari air lindi. Puncak dari peragaan itu, seorang model memeragakan gaun yang dirancang khusus dari bahan koran bekas, bambu, dan kain-kain dari tempat sampah, yang dibentuk menjadi rok panjang menyerupai kerucut terbalik. Lengkap dengan masker antibau, si peragawati mengitari tempat pembuangan sementara (TPS). "Beberapa saya beli khusus di pasar dan beberapa lainnya saya ambil dari sampah," papar Leonardiansyah Allenda atau Leo, sang perancang busana.

Pertunjukan ini tentu bukan fashion show layaknya peragawati di catwalk. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung yang mempraktikkan mata kuliah Eksperimen Kreatif, asuhan perupa Tisna Sanjaya. "Mereka bebas memilih ide dan tema. Publik juga boleh saja menanyakan kepada para mahsiswa maksud pertunjukan ini," papar Tisna. Busana yang dipamerkan merupakan rancangan Rinda Salmun, mahasiswa Jurusan Seni Lukis angkatan 2003, dan Leonardiansyah Allenda, mahasiswa Jurusan Seni Patung angkatan 2003.

Mereka mengadakan peragaan busana itu untuk mengkritik Pemerintah Kota Bandung yang tidak mampu menyelesaikan masalah sampah. Konsep ini dilatarbelakangi citra Kota Bandung sebagai kota mode. Di kota yang berjuluk Parijs van Java ini terdapat ratusan factory otlet (FO), butik, dan distro. Kota Bandung bahkan dijadikan sebagai salah satu barometer perkembangan mode di Indonesia. Akan tetapi, tidak hanya itu citranya, Kota Bandung kini juga memiliki citra sebagai "Kota Sampah". Menurut para mahasiswa, budaya masyarakat membuang sampah sembarangan turut memberi andil banyaknya tumpukan sampah dan TPS di Kota Bandung.

Melihat kondisi ini, Rinda dan Leo terpanggil "membenturkan" Kota Bandung sebagai kota mode sekaligus kota lautan sampah. "Setiap pergi maupun pulang kuliah saya lewat jalan ini. Saya terpanggil merespons fenomena menggunungnya sampah yang kontras dengan Bandung sebagai kota mode," papar Rinda. Rinda berharap pertunjukan ini membuat warga semakin peduli terhadap sampah. "Kami ingin pemerintah segera merespons," kata Rinda. Ia dan Leo tidak menolak kalau, misalnya, pertunjukan ini diadakan di setiap TPS di Kota Bandung. "Asal ada izin dan fasilitasnya, tidak masalah," ujar Rinda. (Mohammad Hilmi Faiq)

Rumah Bersalin untuk Si Miskin

June 2nd, 2006 by emhafaiq

Kompas Selasa, 09 Mei 2006

Pelayanan Kesehatan
Rumah Bersalin untuk Si Miskin

Mimin (30) meringis menahan mulas di perutnya yang buncit. Ditemani suaminya, Soleh (32), Mimin terbaring di salah satu ruang nifas Rumah Bersalin Cuma-cuma Dompet Dhuafa Bandung, Senin (8/5). Dokter memperkirakan Mimin akan segera melahirkan karena usia kandungannya telah menginjak 10 bulan. Pihak rumah bersalin memintanya tetap tinggal di sana.

Meski harus menginap untuk menanti kelahiran anak ketiganya, Mimin dan Soleh merasa tenang. Mereka tidak perlu memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk persalinan. "Meskipun istri saya masuk rumah sakit, saya tetap tenang karena semua gratis. Berbeda dengan dulu, saya harus pontang-panting mencari biaya kelahiran anak," ujar Soleh.

Pedagang asongan ini mengisahkan, sebelumnya persalinan kedua anaknya ditangani dukun beranak (paraji). Untuk persalinan itu ia harus mengeluarkan Rp 80.000. Padahal, penghasilannya hanya Rp 25.000 per hari.

Hal serupa dialami pasangan Agus Safari (45) dan Yani Mulyani (42). Biaya yang harus mereka keluarkan untuk proses persalinan anak pertamanya, Rifqi Afriansyah (7), Rp 250.000. Padahal upah Agus sebagai buruh tani hanya Rp 15.000 per hari. Bahkan, sudah dua tahun ini Agus menganggur.

Oleh karena itu, untuk persalinan anaknya ini Agus memilih Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC). "Semoga prosesnya lancar, tidak merepotkan dokternya," ujar Agus yang tinggal di Kelurahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon.

RBC memang diperuntukkan bagi kaum ekonomi lemah (duafa). Lembaga pelayanan medis yang didirikan 11 Oktober 2004 ini tidak memungut biaya sepeser pun dari pasien. Semua dana yang dibutuhkan ditanggung Dompet Dhuafa Bandung.

Dompet Dhuafa Bandung adalah lembaga amil zakat yang berkewajiban menyalurkan dana zakat kepada penerimanya, salah satunya kepada kaum duafa. RBC adalah salah satu gerai Dompet Dhuafa Bandung untuk menyalurkan dana zakat.

Awalnya, Dompet Dhuafa Bandung hanya menjalankan program pemberian biaya bersalin kepada kaum duafa, bekerja sama dengan Rumah Bersalin Al-Islam Awi Bitung. "Biaya untuk proses persalinan para duafa diklaim kepada Dompet Dhuafa Bandung," ujar Kepala Bagian Umum RBC Dian Purnomo.

Akan tetapi, Dompet Dhuafa Bandung menilai biaya klaim yang dikeluarkan cukup besar sehingga terpikir untuk menggunakan dana tersebut sebagai modal pendirian rumah bersalin. Dana operasional RBC sepenuhnya ditanggung para wajib zakat.

Hingga saat ini tercatat 665 pasien yang mendaftar di RBC di Jalan Holis nomor 127 Bandung. Dari jumlah itu, hanya 320 pasien yang layak menjadi anggota. "Menjadi anggota berarti mendapat pelayanan kesehatan sejak sebelum melahirkan sampai anaknya mendapatkan imunisasi total dan ibunya menjalani KB. Rentang waktunya sekitar satu tahun pascamelahirkan," ujar Dian Purnomo.

Pasien yang daftar diwawancara dan disurvei tempat tinggalnya. Syarat utama menjadi anggota RBC adalah berpenghasilan di bawah upah minimun provinsi (UMP) dan memiliki tanggungan minimal tiga orang. (Mohammad Hilmi Faiq)

Sastra Sufi di Tengah Himpitan Rezim Represif

January 10th, 2006 by emhafaiq

Sastra Sufi di Tengah Himpitan Rezim Represif

Judul Buku : Oposisi Sastra Sufi

Penulis : Aprinus Salam

Editor : Retno Suffatni

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2004

Tebal : LKiS, Yogyakarta(termasuk indeks)

Peresensi : M. Hilmi Faiq (Mahasiswa Psikologi UMM)

YOGYA selama ini dikenal sebagai kota yang amat identik dengan nilai Jawa. Jika Jawa merupakan representasi dari Indonesia, maka yogya adalah titik sentral kelahiran budaya Indonesia. Bila dilacak secara historis, dari kota ini telah melahirkan tidak sedikit individu maupun kelompok-kelompok pergerakan kebudayaan. Menengok ornamen-ormanen fisik yang tergambar di seantero Yogya seperti Borobudur, keraton Yogya, maupun arsitektur bangunan rumah penduduk, terkesan jelas bahwa kota yang kental dengan nuansa keraton ini kaya akan nilai budaya. Bukan hanya itu, keagungan budaya Yogya juga termanifestasi dari sistem nilai yang dianut, seperti keluhuran, ruhani, bahkan magis. Tidak sulit kiranya melacak kelestarian nilai-nilai terebut, karena masyarakat Yogya amat identik dengan prilaku-prilaku yang mencerminkan kehalusan, sopan-santun, ramah, bersahabat, kompak, dan rukun. Kalau toh muncul letupan-letupan emosional seperti amarah atau konfilk fisik, kapasitasnya tidak begitu memadai, sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap sistem nilai yang telah mapan.

Nah, buku yang berjudul Oposisi Sastra Sufi ini mencoba memotret salah satu pergerakan budaya yang terjadi di Yogyakarta. Sengaja, obyek yang dijadikan kajian adalah puisi sufi pada era 1980-an sampai 1990-an. Secara spesifik, buku ini ingin mengupas latar sosial-politik kemunculan sastra sufi tersebut.

Untuk membangun distingsi yang jelas antara sastra sufi dengan sastra Islam atau sastra religius misalnya, maka Aprinus Salam menguaraikan beberapa ciri pokok sastra sufi. Bagi penulis yang juga peneliti pada Pusat Studi Kebudayaan UGM ini, sastra sufi merupakan sastra yang mempersoalkan prinsip tauhid, ke-Ada-an Tuhan, fana-baka, penetrasi Tuhan dan kehendak bebas manusia serta derivasi yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut. dari sini dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa, sastra sufi dengan sendirinya berdimensi religius dan islami, namun tidak selamanya sastra religius merupakan sastra sufi (hal. 2-3).

Bagi penulis yang dilahirkan di Riau ini, telah lama muncul kecenderungan masyarakat untuk memposisikan sastra sebagai fenomena yang hanya berhubungan dengan dunia khayalan. Hanya didekati oleh orang-orang iseng yang ingin menghabiskan waktu kosong, sehingga terkesan tidak ada hubungan signifikan dengan riuh-reda persoalan bangsa dan masyarakat. Selain itu, sastra seringkali hanya diapresiasi sebagai hiburan ekskusif, serta untuk memberi kesan dan legitimasi bahwa sebetulnya kita berperadaban. Sehingga terasa sekali bahwa sastra merupakan entitas yang terpinggirkan dan sunyi.

Bagi Salam, situasi paradigmatik ini kemudian berimbas pada kebijakan yang diambil oleh negara. Hampir bisa dipastikan bahwa kebijakan negara selama ini belum ada yang memadai terhadap dunia sastra, terutama sastra sufi.

Kecenderungan di atas kemudian melahirkan kecenderungan lain dari kelompok yang menginginkan sastra diapresiasi secara memadai. Sehingga dia mampu berperan secara berarti dalam proses sosial, politik dan budaya. Di Yogya, pada dekade 80-an secara teoritis upaya-upaya tersebut semakin berpengaruh dan lambat laun mendapat dukungan secara luas.

Secara panjang lebar, penulis yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM ini memaparkan secara panjang lebar mengenai munculnya sastra sufi pada dekade 80-an sampai 90-an dengan praktik kekuasaan Orde Baru. Seperti galib diketahui, orde baru dengan langgam kekuasaan Islam Jawa telah menjebak Indonesia pada situasi represif, demokrasi semu, dan sekularistik. Hal ini berimplikasi secara serius bagi Islam santri, yakni tersingkirnya peran sosial dan politk Islam. Kondisi tersebut secara diam-diam mendapat perlawanan dari sebagian intelektual (penyair) dengan mengartikulasikan wacana dan pemikirannya melalui sastra sufi. Pilihan strategis dan taktik ini didasarkan atas alasan bahwa sastra sufi tidak mudah terdeteksi karena dalam banyak hal dia hanya bergerak dalam domain epistemologi (hal. 176)

Jelas kiranya bahwa lahirnya sastra sufi di Yogya, atau bahkan Indonesia, bukan sekedar peristiwa sastra belaka. Sastra sufi lahir dari diskursus, dialog, representasi, gesekan dan negosiasi dengan kehidupan nyata yang tidak bisa dibilang mudah. Itulah politik sastra, yang berada di jalur oposisi atau pinggiran.

http://www.i2.co.id/news/detail_resensi_buku.asp?id=120

NU dalam Sorotan Media

January 10th, 2006 by emhafaiq

NU dalam Sorotan Media

Judul buku : NU Politik: Analisis Wacana Media

Penulis : Fathurin Zen

Editor : Fuad Mustafid

Penerbit : LKiS Yogyakarta

Edisi : Cetakan I, April 2004

Tebal : xxviii + 284 halaman (termasuk indeks)

Peresensi : M Hilmi Faiq )

NU merupakan entitas yang tidak saja layak mendapat apresiasi karena peran kesejarahannya, tetapi juga senantiasa menarik untuk dikaji. Ormas Islam yang diririkan KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 ini, telah berkembang menjadi komunitas gigantis yang mampu menyedot perhatian banyak kalangan untuk mengkajinya dari berbagai perspektif. Tidak kurang dari Greg Barton, Perter L. Berger, Leonard Binder, Greg Fealy, H. Feith, C. Geertz, Robert W. Hefner, Horikoshi, K.D. Jackson, serta Karel A. Steenbrink, sering kali menjadikan NU sebagai obyek kajian. Kebanyakan ilmuwan tersebut menyimpulkan, bahwa NU sebagai komunitas maupun ormas adalah dinamis serta memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap kehidupan sosial serta politik bangsa.

Terlebih ketika Ormas yang sempat menjadi partai politik ini dikomandani KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak masa itu, NU kian fenomenal. Hal ini karena strategi yang diterapkan Gus Dur dalam menentukan langkah-langkah NU cenderung devian, keluar dari mainstreem awal. Misalnya, bagaimana Gus Dur memperbaharui pemahaman tentang Khittah serta sikap dia yang kontroversial berkenaan dengan NU, adalah beberapa hal yang makin menmguatkan kesan dinamika NU.

Kini, dinamika NU makin kentara ketika terjadi tarik ulur antara kepetingan politik praktis dengan kepentingan masa depan NU sendiri. Keberanian Hasyim Mudzadi sebagai Ketua PBNU untuk menjadi sebagai cawapres yang dinilai sebagai upaya mempolitisasi NU, serta kegigihan Gur Dur yang didukung PKB melawan KPU tempo hari, merupakan tanda (signifier) bahwa NU memang dinamis (signified).

Gerak-gerik NU yang senantiasa fenomenal ini, menjadi komoditas bagi media untuk dijual ke tengah publik. Tentu saja realitas hasil konstruksi media tidak lepas dari muatan idiologis tertentu. Suatu realitas dapat saja tampil dalam wajah yang berbeda pada media yang berbeda. Karenanya, realitas bentukkan tadi tidak selamanya mampu menghadirkan realitas yang sebenarnya.

Berkaitan dengan itu, buku NU Politik: Analisis Wacana Media ini merupakan salah satu kerja kreatif yang mencoba melacak media (cetak) dalam mengkonstruksi kasus sejenis yang dikemas dalam media bersangkutan. Empat media cetak menjadi basis analisis. Yakni Kompas dan Media Indonesia yang dianggap mewakili kelompok netral; Duta Masyarakat Baru yang menjadi corong sebagian besar kalangan Islam tradisionalis (NU); terakhir, Republika sebagai representatif kalangan Islam modernis.

Perlu diingat, opini yang terbangun dalam media sering kali tidak mencerminkan kepentingan NU. Sebaliknya, opini tersebut tidak jarang secara politis justeru menyerang eksistensi NU. Karena itu kemudian NU pun melempar opini tandingan ke tengah publik sebagai ikhtiar mentralisir atau meluruskan opini-opini yang dianggap tidak sahih. Segera, yang terjadi adalah perang opini yang mewakili masing-masing kepentingan media, termasuk media milik NU.

NU melalui media yang dimilikinya, tentu saja berupaya melempar definisi realitas dirinya ke tengah publik sebagai definisi paling benar, masuk akal, dan memang seharusnya demikian. Sebaliknya, di seberang sana terdapat kelompok lain yang mendefinisikan realitas NU dengan caranya sendiri yang juga mengklaim sebagai paling sahih. Begitulah, tiap media seolah saling menegasikan opini media lain.

Nah, buku ini sebenarnya mengisahkan suatu periode pertempuran dalam mempertahankan dominasi pembentukkan sebuah realitas. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, Fathurin Zen menilai bahwa NU sebagai realitas tidak bias dikonstruksi secara mandiri oleh humant agent anggotanya, ataupun oleh pelaku sosial tertentu dengan semena-mena. Sebab realitas NU—setidaknya pada masa pemilu seperti sekarang ini—merupakan medan perebutan pelbagai pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Singkatnya, realitas NU bila didekati dengan perspektif konstruktivisme, merupakan kontruksi sosial, produk interaksi sosial berkelanjutan, yang melibatkan pertarungan wacana antara pelbagai versi tentang NU itu sendiri.

Lebih dari itu, penulis yang juga peneliti pada Media Wacth Society ini berusaha menyajikan hasil eksplorasi terhadap teks dalam rangka menangkap ideologi, kepentingan, agenda, dan perspektif politik yang bersembunyi di balik teks atau realitas simbolik ketika realitas NU dikonstruksi. Konten berita yang menjadi bidikan adalah bagaimana media (cetak) yang bersangkutan menggambarkan `prilaku` politik NU serta tokohnya dalam hubungannya dengan gerakan sosial-keagamaan dan gerakan politik kelompok Islam modernis.

Selain sebagai upaya memahami konstruksi sosial NU, buku yang merupakan pengembangan dari tesis penulis pada jurusan Ilmu Komunikasi Pascasarjana UI ini semakin menemukan signifikansinya sebagai jembatan untuk memahami bagaimana critical discourse analysis bermain. Akhirnya, pesan moral yang terkesan dalam buku ini, mengajak kita untuk senantiasa memilah-milah, menelisik, dan mencermati "ideologi" media, sehingga kita tidak "tersesat" dalam rimba opini yang belum tentu benar.

*)Peneliti Center for Religious and Social Studies (RëSIST) Malang, kini tinggal di Paciran-Lamongan

ODHA

December 1st, 2005 by emhafaiq
KOMPAS Jawa Timur - Senin, 29 Nov 2004 
MENYISAKAN IBA UNTUK ODHA 

    LAJU pertumbuhan pengidap HIV/AIDS benar-benar sulit
dikendalikan. Betapapun berbagai upaya telah diterapkan, jumlah orang
dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap tinggi. Di Jawa Timur, hingga akhir
tahun 2003, tercatat tidak kurang dari 2.685 kasus HIV dan sebanyak
1.230 pengidap AIDS. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen menimpa
kalangan pekerja yang berada dalam usia produktif (Kompas,
13/7/2004).
    Mulanya, HIV/AIDS ditemukan pada kelompok homoseks di San
Fransisco pada tahun 1981 dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk
Indonesia, pada tahun 1987. Sekarang bukan hanya karena homoseks atau
seks bebas, bayi yang tidak tahu apa-apa juga terinfeksi. Konsentrasi
virus ini sangat banyak di dalam tubuh, seperti darah, organ kelamin
perempuan (vagina), dan sperma.
    Untuk Jatim, kasus HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1987.
Sejak saat itu jumlahnya merangkak naik. Penyebab, perantara, serta
penularannya amat beragam, mulai dari hubungan seks, suntikan, kaum
homoseks (gay dan lesbian), ibu hamil, transfusi darah, sampai dengan
akibat penyakit gangguan pembekuan darah.
    Penyebaran tempat tinggal ODHA pun amat sporadis. Penanggulangan
HIV/AIDS secara intensif diprioritaskan di daerah tertentu. Prioritas
mencakup enam provinsi, yakni Papua, Riau, DKI Jakarta, Bali, Jatim,
dan Jawa Barat. Paling tidak ada dua alasan dilakukannya
penanggulangan berdasarkan pada prioritas di enam provinsi tersebut.
Pertama, keterbatasan dana pemerintah. Kedua, di enam provinsi
tersebut terdapat tanda-tanda penyebaran HIV yang mengkhawatirkan.
    Memang, sampai kini HIV/AIDS masih identik dengan pola hidup
metropolis. Namun, bukan berarti mereka yang hidup di pedesaan aman
dari incaran epidemi ini. Ingat, HIV/AIDS menyerang tanpa pandang
bulu. Orang yang memiliki gaya hidup normal pun dapat terjangkiti.
Penyebabnya, misalnya, pasangan hidupnya (suami, istri, atau pacar)
memiliki kebiasaan tidak sehat atau terjangkit HIV/AIDS.
    Sebagai perbandingan, di Papua HIV/AIDS telah menjadi epidemi
yang sulit dibendung. Di sana, anak kecil, orang baik-baik yang jauh
dari perbuatan dosa, serta mereka yang tinggal di gubuk-gubuk reyot
pun mengidap HIV/AIDS. Untuk itu, sangat penting bagi kita mewaspadai
incaran penyakit mematikan ini.
    Meskipun demikian, bukan berarti kita harus menyingkirkan para
ODHA. Selama ini muncul kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan
bagi para ODHA. Selain mereka harus berperang melawan penyakit yang
bersarang di tubuhnya, mereka juga harus dikucilkan, diisolasi,
dicemooh, dilaknat, dan disia-siakan  masyarakat.
    Mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya tidak lain adalah minimnya
informasi yang dimiliki publik. Selain itu, informasi seputar
HIV/AIDS yang mereka dapat sering kali tidak akurat dan bahkan
dibumbui dengan mitos-mitos. Celakanya, mitos yang berkembang
tersebut mengesankann bahwa ODHA memang harus dijauhi.
    Memang, sebagaimana disinyalir Dadang Hawari, seorang psikiater
yang juga pejuang melawan HIV/AIDS, para ODHA pada umumnya adalah
penzina dan pecandu, kecuali yang lagi apes. Namun, ini bukan berarti
kita harus menyingkirkan mereka sama sekali dari sisi kemanusiaan.
Kondisi ini justru akan memperparah kondisi ODHA. Bahkan, bisa jadi
karena mereka kecewa dengan perilaku masyarakat terhadapnya, akhirnya
dengan sengaja menyebarkan penyakit yang mereka derita. Ini bisa
gawat.
    Para ODHA, sebagaimana juga dengan kita, adalah manusia biasa
yang mebutuhkan sentuhan kasih sayang, kelembutan, perhatian, dan
pekerjaan. Dalam keputusasaan,  ODHA tetap membutuhkan perhatian,
uluran tangan,  dukungan moral, dan materiil.
    Bisa dipastikan, seseorang yang divonis positif mengidap HIV/AIDS
akan dilanda kegelisahan. Namun, sebagian besar kegelisahan ini
ternyata bukan karena dia harus berjuang keras melawan penyakit di
tubuhnya atau karena harus menemukan obat yang harganya tidak murah
itu. Kegelisahan mereka lebih dikarenakan perasaan gamang dan takut
berbaur dengan masyarakat luas. Pasalnya, para ODHA sadar bahwa
masyarakat masih salah dalam memahami HIV/AIDS dan menyebabkan mereka
menghindari ODHA.
    Sebenarnya, kebutuhan mendasar ODHA selain obat adalah kebutuhan
afiliasi (affiliation need). Mereka membutuhkan seseorang untuk
berbagi derita yang dialami. Mereka membutuhkan uluran tangan
konselor yang memberikan suntikan informasi seputar HIV/AIDS dan
semangat hidup sehingga hidupnya bisa terjaga dan tidak berbahaya
bagi orang lain.
    Itu pun belum cukup. Para ODHA juga membutuhkan sentuhan serta
berbagi dengan sesamanya. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk
memfasilitasi sebuah komunitas ODHA. Dengan adanya komunitas sesama
ODHA, setidaknya mereka akan menemukan semangat baru dalam hidupnya
untuk bisa tegar sebagai ODHA. Sebab, mereka semakin sadar bahwa
penderitaannya juga dirasakan orang lain. Hal yang lebih penting
lagi, sudah saatnya kita memberangus stigma-stigma seputar ODHA yang
didasarkan pada informasi yang salah.

M HILMI FAIQ
Sarjana Psikologi
dan Sekretaris ReSIST Malang

Halaman F

IDUL FITRI SEBAGAI MOMEN PEMBEBASAN

October 28th, 2005 by emhafaiq

IDUL FITRI SEBAGAI MOMEN PEMBEBASAN

TANGGAL 3 November ini menjadi hari bermakna bagi segenap umat muslim di seluruh dunia, karena hari itu bertepatan dengan 1 Syawal 1425 Hijriah, di mana umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sebuah hari kemenangan dan kebebasan menuju kesucian. Dari segi kolosal serta semangat umat Islam dalam menyambut hari kemenangan ini, menurut Cak Nur (2000; 127), Hari Raya Idul Fitri dapat disepadankan dengan Thanksgiving Day di Amerika Serikat, saat rakyat bersuka ria dengan bersyukur kepada Tuhan bersama seluruh keluarga.

Dalam Hari Raya Idul Fitri terkandung makna kembali ke hakikat, kembali merdeka setelah sebulan berada dalam masa ujian dan penyucian. Nilai paling fundamental adalah kemerdekaan sebagai manusia dan bangsa. Namun, di hari yang suci ini kita tidak hanya hanyut dalam keagungan seremonial, tetapi yang lebih penting melakukan kontemplasi akan hakikat kemerdekaan.

Sejatinya, sebagai negara ketiga bangsa ini belum seutuhnya merdeka. Penjajahan yang dilakukan Barat secara fisik memang telah tiada. Namun, kolonialisme itu telah mengalami proliferasi paling sempurna dalam bentuk neo-kolonialisme dan globalisasi. Semua itu merupakan proses dominasi dunia pertama (Barat) terhadap negara dunia ketiga.

Hal ini sesuai dengan apa yang dimaksud Arturo Escobar. Dalam salah satu artikelnya yang berjudul Imagining a Post-Development Era? Critical Thought, Development and Social Movements, dia membagi fase dominasi menjadi tiga. Pertama, kolonialisme, yang dominasinya dilakukan melalui ekspansi fisik. Periode ini berakhir setelah Perang Dunia II bersamaan dengan bom di Nagasaki dan Hirosima Jepang.

Kedua, era neo-kolonialisme. Penjajahan melalui penyebarluasan teori dan ideologi dalam wujud konsep pembangunan. Ketiga, fase imperalisme lewat jalan globalisasi. Meski era pembangunan belum berakhir, kapitalisme telah membuat mekanisme baru untuk melakukan dominasi. Hal itu tampak pada konsep lembaga finansial global yang diperkuat dengan ideologi pasar bebas, rezim GATT, WTO, perusahaan transnasional (TNCs), NAFTA, APEC, ASEAN, dan sebagainya. Integrasi ekonomi sebuah negara dipaksa secara halus untuk mengikuti kemauan pasar dan kapitalisme global (Fanani, 2004).

Sebenarnya, bagaimana menghindari jebakan imperialisme modern? Agama punya peran penting di dalamnya. Dalam konteks kekuatan negara dunia ketiga yang kian menggurita, agama bisa dijadikan kekuatan liberatif. Tidak hanya Islam, semua agama samawi memiliki potensi yang sama.

Dalam konteks Indonesia yang dikenal religius dan berpenduduk mayoritas Islam, menyimpan potensi yang tidak sepele untuk membendung dominasi Barat. Agama yang dimaksud bukanlah agama yang hanya memedulikan domain spiritual dan moral atau hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Merujuk pada kerangka teoritik Ali Syari’ati, agama mampu menjelma sebagai kekuatan liberatif jika ia dijadikan sebagai ideologi emansipasi dan pembebasan.

Dalam konteks ini, lanjut Syaria’ti, agama merupakan sistem ide, kelengkapan, dan totalitas yang tidak hanya terbatas kepada pemurnian moral individu atau perwujudan hubungan spiritual. Melainkan sebuah idiologi revolusioner yang menembus semua bidang kehidupan, khususnya politik, dan memberi semangat bagi umat untuk berjuang melawan semua bentuk tekanan, penindasan, dan ketidakadilan sosial.

Secara strategis, Hasan Hanafi menawarkan Osidentalisme sebagai upaya mencandra Barat. Hanafi menyadari bahwa globalisasi merupakan keniscayaan yang tak dapat dielakan. Namun, bukan berarti kita harus menerimanya begitu saja (take for granted). Karenanya harus ada asimilasi sehingga kita tidak teralienasi. Nah, oksidentalisme berfungsi agar kita tidak miopik dalam memahami Barat dan globalisasi, sembari indepedensi kita sebagai bangsa yang merdeka tetap terjaga.

Lokus dari semangat liberatif yang tersimpan rapi dalam agama samawi adalah bagaimana kita mereformasi pemahaman keagamaan yang cenderung normatif-ritualistik menuju keberagamaan yang kental praksis sosial. Inilah yang dicita-citakan Mahmud Mohammad Thaha melalui gagasan syariat demokratik-nya. Inti gagasan ini adalah bagaimana menghadirkan agama dalam wajah yang egaliter dan demokratis.

Namun, prakondisi intelektual yang harus dibangun, agama jangan hanya dipahami dari perspektif agama itu sendiri. Ia harus dilengkapi dengan perangkat ilmu sosial dan humaniora seperti filsafat, antropologi, dan sejarah. Dengan demikian, agamawan akan memiliki sensitivitas tinggi dalam melakukan kontektualisasi spirit agama dengan situasi yang melingkupi umat. Hanya dengan cara inilah agama menjadi fungsional. Dia akan mampu mengakhiri dominasi Barat, minimal membatasi penetrasi pengaruhnya.

Di Hari Raya Idul Fitri, kita renungkan kembali kondisi riil diri kita dan kemudian menyusun praksis gerakan menuju kebebasan yang sebenarnya. Salah satu cara yang paling efektif dan penting adalah dengan merekonstruksi bangunan kegamaan. Semoga Hari Raya Idul Fitri kali ini dapat menjadi momen yang benar-benar membebaskan.

M HILMI FAIQ

Sekretaris Center for Religious and Social Studies (ReSIST) Malang dan Aktivis JIMM

Globalisasi

October 16th, 2005 by emhafaiq

23 Apr 2004

WASPADA Online

Globalisasi dan Fundamentalisme Agama

Oleh M. Hilmi Faiq *

GLOBALISASI telah menciptakan atmosfer dunia menjadi semakin terbuka. Di samping itu juga melahirkan beragam tuntutan ekspansi dan pemberdayaan rakyat secara lebih serius. Pada saat yang sama, lahirnya globalisasi ternyata disertai dengan munculnya gelombang berbagai bentuk penegasan kembali identitas-identitas komunal masyarakat dan hak budaya lokal. Fenomena ini merupakan bukti adanya kekuatan penahan terhadap kecenderungan marginalisasi, hegemoni, dominasi serta homogenisasi global.

Dari sekian bentuk penegasan identitas tersebut, yang paling nampak radikal adalah gekakan fundamentalisme agama. Fundamentalisme merupakan orientasi kognitif dan afektif sekaligus terhadap dunia modern yang berfokus pada protes dan perubahan. Protes dan Kekesalam kaum fundamentalis adalah terhadap idiologi modernisme. Selain itu protes kaum fundamentalisme juga ditujukan kepada negara-negara sekuler yang dianggap sebagai alat dalam menggusur agama (Antoun, 2003: 174).

Dengan demikian, globalisasi sebagai realitas menegaskan bahwa munculnya fundamentalisme agama secara fenomenologis merupakan salah satu moda respons radikal atas dinamika perkembangan global yang dominatif dan eksploitatif dengan menggunakan agama sebagai basis legitimasi. Bukan semata-mata manifestasi dari interpretasi tekstual-skripturalistik atas dogma dan doktrin keagamaan sebagaimana yang sering dituduhkan.

Gerakan fundamentalisme agama memang sulit dipisahkan dari terma skriptualisme. Pada dasarnya kaum fundamentalis meyakini bahwa kitab suci menjadi penting lantaran karakter numinusnya; yaitu kemampuan kitab suci menbawa orang beriman untuk lebih dekat dengan Yang Suci hanya dengan membacanya (kadang-kadang hanya dengan menyentuhnya); kemampuannya untuk mengilhami orang beriman; dan dampak emosionalnya, yang membuat nyaman atau transformasi. Namun di balik semua itu, kerinduan mendalam yang dirasakan kaum fundamentalis adalah kepastian suatu zaman. Dan, itu semua hanya didapati dalam kitab suci.

Ketika globalisasi dipandang sebagai biang runtuhnya sistem nilai dan etika, maka kaum fundamentalis ingin mereaktualisasi kitab suci. Bagi mereka, kitab suci merupakan kebenaran yang turun langsung dari Tuhan. Kelanjutan keyakinan ini, kitab suci dipandang memiliki kebenaran absolut dan universal, yang dapat mengatasi perkembangan zaman. Sebagai respon atas globalisasi, reaktualisasi ini seringkali menyeret ajaran agama pada wilayah publik (deprivatisasi). Dengan mengatasnamakan kitab suci, golongan ini seolah mendapat "mandat Tuhan" untuk memberhangus yang lain (the others), yang dianggap dhalalah. Klaim kebenaran (truth claim) seperti ini akhirnya melahirkan anak keyakinan bahwa hanya cara beragama mereka yang menjamin keselamatan (claim salvation).

Dalam wilayah praktis, Bassam Tibi (1998) menyepakati bahwa fundamentalisme, baik di dalam Islam maupun dalam agama-agama lain di luar Islam, sebenarnya merupakan gejala politisasi agama agresif yang dilakukan demi tujuan-tujuan non agama. Di samping itu, tambah Tibi, fundamentalisme, dalam agama apapun, adalah bentuk superfisial dari terorisme atau ekstremisme.

Singkatnya, fundamentalisme sering nampak dalam wajah seram radikalisme. Secara paradoksal, radikalisme dapat dipisah menjadi dua varian. Kedua varian ini oleh banyak pakar dilihat melalui suatu pendekatan oposisi biner (binary opposition), membagi radikalisme ke dalam dua kutub yang bertentangan secara diametral (violence-nonviolence). Pertama, radikalisme-eskapis, gerakan yang berusaha menjauh dari aspek duniawi, hidup bertapa, membebaskan diri dari berbagai kenikmatan duniawi yang dianggap racun dan bersifat maya. Kedua, radikalisme teologis-ideologis. Yakni upaya menciptakan komunitas eksklusif sebagai media sekaligus penegasan identitas kelompok di tengah atmosfer dunia yang dianggap dekaden, sebuah dunia iblis yang harus dimusnahkan. Mereka meyakini dirinya paling benar (truth claim), paling dekat dengan pintu Tuhan. Memerangi orang kafir adalah kebajikan, sedangkan kematian adalah jalan menuju rumah surgawi. Menurut Komaruddin Hidayat (2002), sikap radikalisme teologis-ideologis semacam inilah yang tiap saat bisa melahirkan bencana sosial-politik, yang akan menimbulkan fitnah bagi umat seagama yang katanya diperjuangkan.

Lantas bagaimana dengan tudingan maraknya fundamentalisme dalam Islam? Secara fenomenologis, tudingan ini sulit dibantah. Namun pada kenyataannya, fundamentalisme agama tidak hanya ada pada Islam. Semua agama memiliki potensi lahirnya fundamentalisme agama. Richard Antoun melalui buku "Understanding Fundamentalism: Chritian, Islamic and Jewish Movement" menguarikan dengan detail bagaimana fundamentalisme lahir dari rahim agama Kristen, Islam serta Yahudi. Buku ini nampaknya dapat dijadikan bukti yang cukup bisa dipertanggungjawabkan atas fenomena fundamentalisme agama tersebut.

Lebih lanjut Richard T. Antoun melakukan komparasi fenomena gerakan fundamentalisme Kristen, Islam dan Yahudi. Antoun menyimpulkan bahwa fundamentalisme ketiga agama tersebut memiliki etos dan visi keduniaan yang sama, meskipun konten kultural dan setting historisnya berbeda. Yakni mencari kemurnian di dunia yang tidak lagi murni, mencari otentitas di dunia yang semakin plural, perlunya kepastian di tengah dunia yang terus berubah, mengupayakan agar masa lalu menjadi relevan dengan situasi kontemporer mereka, dan secara aktif berjuang melawan segi-segi dunia modern yang mereka anggap nista. Dus, fundamentalisme agama merupakan reaksi alami yang menggugat kemapanan globalisasi.

* Penulis adalah Wakil Ketua Senat Mahasiswa UMM, peneliti ReSIST Malang dan aktivis JIMM.

Agama dan Perang

October 16th, 2005 by emhafaiq

23 Apr 2004

Menuju Keberagamaan Berperspektif Kemanusiaan

Judul Buku     : Kala Agama Jadi Bencana
Judul Asli        : When Religion Becames Evil
Penulis           : Charles Kimball
Penerjemah   : Nurhadi
Pengantar      : Sindhunata
Penerbit         : Mizan, Bandung
Edisi               : Cetakan I, Desember, 2003
Tebal              : 360 halaman
Oleh                : M. Hilmi Faiq *

AGAMA adalah realitas terdekat sekaligus misteri terjauh, demikian kesimpulan Jalaluddin Rakhmad. Sebagai realitas terdekat, ia sellu hadir sebagi ruh aktivitas kita. Hampir tiada gerak maupun niat kita yang tidak terinpirasi atau pun termotivasi oleh agama. Maka, persis dengan apa yang disinyalir Clifford Geertz, agama dalam wilayah sosial telah bermetaformosis menjadi sistem budaya. Tentunya dalam makna kebudayaan sebagai "susunan arti" atau ide yang dibawa simbol, di mana orang meneruskan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan mengekspresikan sikap mereka terhadapnya.

Sebagai misteri terjauh, agama menyimpan selaksa teka-teki misterius yang teramat sulit dijangkau rasio. Domain metafisika, trasendensi, supranatural, sakralitas, serta wilayah abstrak lainnya, menjadi ruang-ruang yang hanya bisa dirasakan namun susah dijamah rasionalitas. jadi, tidak heran kalau kemudian dalam setiap aktivitas keberagamaan, selalu tersirat makna-makna yang amat sulit dipahami oleh pengikutnya, apalagi oleh orang lain.

Sebagai realitas sosial, kita juga kesulitan dalam menjelaskan mengapa agama yang menjanjikan, kasih sayang, kedamaian, kerukunan, serta persaudaraan tiba-tiba muncul dalam wajah yang menyeramnkan: perang atas nama agama (the holy war), membinasakan sesama atas nama agama, atau pun teror dengan menggunakan simbol agama? Padahal agama acap kali dikampanyekan sebagai jalan bagi umat manusia untuk mencapai keselamatan menuju Realitas Agung (the Ultimate Reality). Tragedi kemanusiaan seperti peristiwa 11 September, Bom Bali, peperangan Israel-Palestina yang nyaris abadi itu, seolah menegasikan bahwa agama adalah jalan kedamaian.

Berangkat dari realitas paradoksal di atas, kemudian Charles Kimball, Ketua Departemen Agama di Universitas Wake Forest, mencoba mengurai simpul-simpul kekerasan atas nama agama. Menurutnya, agama akan berubah menjadi bencana manakala terdapat lima pra kondisi. Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Klaim kebenaran (truth claim) seperti ini, menegasikan kebenaran yang mungkin terdapat dalam agama lain (out sider). Dalam pemahaman ini, outsider adalah kelompok sesat dan musuh Tuhan, kerenanya, harus dimusnahkan.

Kedua, agama menjadi bahaya manakala para pengikutnya menganut prinsip ketaatan buta. Otentitas agama tidak pernah menentang intelek serta rasio manusia. Maka, Kimball mengingatkan, agar kita berhati-hati dengan ajaran-ajaran agama yang bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelek, membabat itegritas pengikutnya dengan menuntut ketaatan kepada tokoh kharismatik mereka (hal. 17). Karena bila ketaatan buta ini lahir, maka aktivitas mereka menjadi buta pula.

Ketiga, waham idealisme para pengikut agama. Jika waham ini telah bersemayam, lahirlah upaya-upaya untuk mengusung atmosfer masa lalu yang dianggap ideal, ke masa kini. Padahal, kebutuhan zaman ideal masa lalu itu sama sekali berbeda dengan masa kini. Dalam Islam misalnya, lahirnya kelompok tertentu yang "ngotot" untuk diperlakukannya syariat Islam sebagaimana yang dibrlakukan pada jaman Nabi, adalah salah satu representasi dari waham ini.

Keempat, ketika agama tersebut merelakan dan membenarkan terjadinya "tujuan yang menghalalkan segala cara". Dengan menyalahgunakan variabel-variebal agama, seringkali cara-cara yang digunakan bertentangan dengan tujuan itu sendiri. Misalnya, untuk mencapai kedamaian, malah ditempuh dengan peperangan.

Kelima, ketika agama memekikkan perang suci. Kiranya tidah sulit menemukan contoh dari motivasi keberagamaan seperti ini. Tragedi 11 September masih saja menjadi bukti betapa agama tidak lagi ramah. Bahkan, bagi banyak orang di Barat, Osama bin Laden—pemimpin penyerangan tersebut—telah menjadi ikon kejahatan atas nama agama di dunia saat ini.

Jika demikian, lantas apa yang harus diperbuat untuk mengembalikan wajah asli agama yang penuh kasih sayang, kedamaian, cinta kasih, kerukunan serta persaudaran di atas? Dalam hal ini, sebagai guru besar Studi Agama Kimball menawarkan dialog antariman sebagai salah satu solusi alternatif. Dialog ini mengandaikan hijrah dari teologi kalsik-tradisional yang sempit, menuju teologi inklusif yang mempercayai rencana keselamatan umat manusia secara menyeluruh. Agama harus mengambil disposisi bahwa mungkin saja agama di luar agama kita mampu menjelaskan rencana Tuhan itu. Dus, pandangan iklusivis mengakui kehadiran dan aktivitas penyelamatan yang dilakukan Tuhan pada semua tradisi agama… (hal. 297). Namun, lanjut Kimball, Langkah ini harus diawali dengan melupakan "berbagai perselisihan dan pertikaian" pada abad-abad sebelumnya untuk mendapatkan saling pengertian dan bersama-sama "menegakkan dan memajukan perdamaian, kebebasan, keadilan sosial, dan nilai-nilai moral". Jika ini terbangun, maka nuansa keberagamaan dengan perspektif kemanusiaan akan mudah tercapai. Inilah harapan kita!

Demikianlah, buku yang mendapat banyak pujian ini seolah ingin menyadarkan kita, bahwa dialog antar iman untuk membangun keimanan yang hidup dan menghidupi kemanusiaan secara universal adalah keniscayaan. Untuk mengawali semua itu, harus dimulai dari sekarang!

* Penulis adalah Wakil Ketua Senat Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Malang.
(bps)
 

WASPA1978DA Online